Saturday, February 11, 2012

Apakah Orang Yang Hanya Bermodal Syahadat Lalu Meninggalkan Seluruh Amal Kewajiban Dalam Syariat Dikatakan Muslim?


Ketika saya membaca artikel Ustadz yang berjudul “Pokok Iman (Ashlul-Iman) Menurut Ahlus-Sunah Wal-Jama’ah”. Saya mendapati beberapa ungkapan dan nukilan beliau  yang perlu diteliti kembali. Diantaranya adalah ungkapan Ustadz: “-Dari perkataan para imam di atas – yang merupakan interpretasi ‘aqidah Ahlus-Sunnah – dapat dipahami bahwa hukum kekafiran tidaklah tetap – dari sisi meninggalkan (at-tarku) – dengan kesepakatan (ijmaa’), hingga ia meninggalkan ashlul-iimaan.”

-Dr. Nu’aim Yaasiin hafidhahullah berkata :
فالجمهور من أهل السنه وإن جعلوا العمل جزءا من الإيمان إلا أنهم لم يقولوا بتكفير المصدق بقلبه المقر بلسانه إن لم يعمل، والحنفية وإن أخرجوا العمل من الإىمان إلا أنهم اعتبروه من لوازمه ومقتضياته، ولكل متفقون على عدم التكفير بترك العمل
“Jumhur ulama Ahlus-Sunnah, meskipun mereka menjadikan amal merupakan bagian dari iman, namun mereka tidaklah mengatakan kekafiran orang yang membenarkan dengan hatinya lagi mengikrarkan dengan lisannya. Adapun ulama Hanafiyyah, meskipun mereka mengeluarkan amal dari iman, namun mereka menganggapnya sebagai konsekuensi dan persyaratannya. Dan mereka semuanya bersepakat tentang peniadaan pengkafiran dengan meninggalkan amal” [Al-Iimaan, hal. 151-153].

-Dikuatkan pula oleh beberapa perkataan ulama yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan amal jawaarih –selesai nukilan Ustadz Abul-Jauza-


Yang saya pahami dari konteks pembahasan Ustadz tentang Ashlul-Iman adalah beliau hendak menyimpulkan bahwa orang yang mengikrarkan syahadat lalu meninggalkan amal secara keseluruhan (tidak beramal sedikitpun tanpa udzur) adalah masih dianggap sebagai seorang muslim karena dalam hatinya masih terdapat ashlul-iman yaitu syahadat  setelah beliau membawakan ucapan para ulama dalam hal ini. Ungkapan semacam ini mirip dengan sebagian ungkapan kelompok sesat yang menyimpang dalam permasalahan iman yaitu kelompok Murji’ah.

Saya tidak bermaksud sedikitpun untuk menolak ucapan para ulama dalam permasalahan ashlul-iman, namun hanya ingin memahaminya sesuai dengan aqidah ahlus-sunnah yang saya yakini. Tentunya ucapan para ulama lebih pantas dipahami dari ucapan para ulama salaf yang lain baik dari kalangan mutaqaddimin maupun mutaakhirin (di zaman kita) demi meluruskan kesalahpahaman kita dalam memahami beberapa ungkapan para ulama yang musykil.

Lalu apakah benar ungkapan sebagian orang  bahwa para ulama tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan seluruh kewajiban syariat  (tidak beramal sedikitpun tanpa udzur) atau dapat dikatakan hanya bermodal syahadat dalam beragama?

Kita cermati ucapan para ulama salaf berikut :

1) Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah

قال الإمام أحمد رحمه الله (السنة للخلال:3/601) وسئل عن قوله في كلمة (مؤمن إن شاء الله) فقال:"أقول : مؤمن إن شاء الله ، ومؤمن أرجو ، لأنه لا يدري كيف أداوءه للأعمال على ما افترض عليه أم لا".

Imam Ahmad ditanya tentang ucapan seseorang “(saya) adalah seorang mu’min insyaallah”, lalu Imam Ahmad menjawab : “Aku katakan ia mu’min insyaallah, aku berharap bahwa ia adalah seorang mu’min, karena aku tidak tahu apakah ia telah menunaikan  apa yang  diwajibkan padanya atau belum

Imam Ahmad rahimahullah dalam atsar di atas tidaklah menghukumi orang yang ditanyakan sebagai seorang mu’min hingga beliau mengetahui apakah ia telah menjalankan kewajiban-kewajiban syariat atau tidak, bagaimana kiranya jawaban Imam Ahmad jika ditanya tentang kelakuan seorang Murji’ah yang meninggalkan seluruh kewajiban syariat lalu berdalih bahwa ashlul-iman masih ada dalam hatinya!?

Tentang riwayat Al-Imaam Ahmad rahimahullah, anaknya – Shaalih bin Ahmad – berkata :
سألت أبي عمن يقول : الإيمان يزيد وينقص، ما زيادته ونقصانه ؟. فقال : زيادته بالعمل ونقصانه بترك العمل، مثل تركه : الصلاة والحج وأداء الفرائض......
Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang orang yang berkata : ‘Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Apakah penambahan dan pengurangannya ?’. Ia (Ahmad) menjawab : ‘Penambahannya adalah dengan amal dan pengurangannya adalah dengan meninggalkan amal[10]. Contoh meninggalkan amal adalah : shalat, haji, dan penunaian berbagai kewajiban....” [Masaailu Al-Imaam Ahmad bi-Riwayaat Abil-Fadhl Shaalih, 2/119].
                             
- Jika kita cermati ucapan Imam Ahmad di atas, yang dimaksud pengurangan iman terjadi dengan meninggalkan amal adalah dengan meninggalkan sebagian amal seperti ia meninggalkan shalat, zakat, haji dan lainnya (lihat penjelasan Syaikh Dr. Abdullah bin Ibrahim Az-Zahim di bawah) bukan meninggalkan seluruh amal. Bahkan ucapan Imam Ahmad tersebut menunjukkan bahwa semakin seorang meninggalkan kewajiban syariat maka semakin berkurang iman di hatinya, jika ia tidak melakukan amal sedikitpun maka habislah kadar iman di hatinya. Apalagi yang akan berkurang setelah ia meninggalkan seluruh amal ketaatan !?

- Apakah tepat jika antum berdalil dengan ucapan Imam Ahmad bahwa meninggalkan seluruh amal dhahir tidak dihukumi kafir, padahal yang masyhur dari pendapat Imam Ahmad bahwa beliau mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat, bukankah shalat merupakan amal jawarih !?   

2) Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah

قال سفيان بن عيينة رحمه الله(السنة لعبد الله بن أحمد:1/347) : وقد سئل عن الإرجاء فقال : ( يقولون الإيمان قول ، ونحن نقول الإيمان قول وعمل. والمرجئة أوجبوا الجنة لمن شهد أن لا إله إلا الله مصراً بقلبه على ترك الفرائض ، وسموا ترك الفرائض ذنباً بمنزلة ركوب المحارم ، وليسوا بسواء لأن ركوب المحارم من غير استحلال معصية ، وترك الفرائض متعمداً من غير جهل ولا عذر هو كفر).

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah ditanya tentang Al-Irja’ (murji’ah) lalu beliau berkata : “Mereka (murji’ah) menyatakan bahwa iman adalah ucapan sedangkan kami menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan amal, Murji’ah mewajibkan surga bagi siapa yang senantiasa bersyahadat Lailaha illalah dalam hatinya dan meninggalkan kewajiban-kewajiban (syariat), mereka menamakan tarkul-faraaidh (meninggalkan kewajiban) sebagai dosa seperti terjatuhnya seorang dalam keharaman, ini tidaklah sama karena terjatuhnya seorang pada keharaman tanpa istihlal (penghalalan) adalah maksiat, sedangkan meninggalkan kewajiban-kewajiban syariat dengan sengaja tanpa kejahilan dan udzur adalah kekafiran”. [As-Sunnah 347/1]

3) Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah

وقال إسحاق بن راهوية رحمه الله (تعظيم قدر الصلاة:2/929، فتح الباري لابن رجب :1/21): "غلت المرجئة حتى صار من قولهم : إن قوماً يقولون : من ترك الصلوات المكتوبات وصوم رمضان والزكاة والحج ، وعامة الفرائض من غير جحود لها: إنَّا لا نكفره ، يرجأ أمره إلى الله بعد، إذ هو مقرٌّ. فهؤلاء الذين لا شك فيهم. يعني: في أنهم مرجئة".

Al-Imam Ishaq bin Rahawaih –rahimahullah- berkata : “Kaum Murji’ah mengatakan, barangsiapa yang meninggalkan shalat-shalat yang wajib, puasa ramadhan, zakat,  haji  dan kebanyakan kewajiban-kewajiban (syariat)  tanpa mengingkari (kewajibannya) maka kami (Murji’ah) tidak mengkafirkannya, perkaranya diserahkan kepada Allah  ketika ia mengakui (kewajibannya). Ishaq berkata : Mereka adalah Murji’ah, tidak ada keraguan padanya. [Ta’dzim Qadris Shalah 929/2, Fathul Bari Liibni Rajab 21/1]

4) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

والأعمال الظاهرة لازمة لذلك. لا يتصور وجود إيمان القلب الواجب مع عدم جميع أعمال الجوارح ، بل متى نقصت الأعمال الظاهرة كان لنقص الإيمان الذي في القلب

“Amalan dzahir merupakan konsekuensi dari ashlul-iman, tidak mungkin tergambarkan adanya iman yang wajib  dalam hati bersamaan dengan ia meninggalkan seluruh amal jawarih. Bahkan berkurangnya amal shalih seseorang menunjukkan berkurangnya iman di hatinya”. [Majmu’ul Fatawa 7/198]

وقال رحمه الله أيضاً(الفتاوى:7/621) :" ومن قال بحصول الإيمان الواجب بدون فعل شيء من الواجبات ، سواء جعل فعل تلك الواجبات لازماً له ، أو جزءًا منه ، فهذا نزاع لفظي ، كان مخطئاً خطأً بينا ، وهذه بدعة الإرجاء التي أعظم السلف والأئمة الكلام في أهلها ، وقالوا فيها من المقالات الغليظة ما هو معروف

Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata : “Barangsiapa yang menyangka bahwa iman yang wajib (ashlul-iman) tercapai tanpa melakukan sedikitpun dari amalan wajib, sama saja apakah ia menjadikan amal jawarih lazim baginya atau bagian darinya, ini hanyalah khilaf lafdzi (hanya perbedaan ungkapan saja padahal hakikatnya sama -pen-) sungguh ia telah terjatuh pada kesalahan yang sangat jelas. Ini adalah bid’ah irja’ yang para Salaf dan imam memperingatkan darinya (murji’ah). Mereka telah menyatakan suatu ucapan yang sangat jelek sebagaimana telah kita ketahui." [Majmuu' Al-Fataawaa 7/261]

5) Syaikh Muhammad Aman Al-Jami rahimahullah berkata :

الإيمان في القلب ولو صحَّ إيمان القلب لصحَّ إيمان الجوارح وإيمان اللسان. هذا هو الإرجاء المنتشر بين المسلمين ، الإرجاء معناه : تأخير الأعمال عن مسمى الإيمان ، وأن الإيمان التصديق بالقلب فقط أو التصديق والنطق معاً ، هذا هو الإرجاء المنتشر بين المسلمين كثيراً وهم لا يشعرون! الإيمان تصديق بالقلب ، وذلك التصديق يحتاج إلى تصديق ، والذي يصدق ذلك التصديق : النطق باللسان والعمل بالجوارح

Iman ada dalam hati, seandainya iman dalam hatinya benar niscaya iman dalam amal jawarih dan lisannya pun benar. Ini adalah pemikiran murji’ah yang tersebar di kalangan kaum muslimin. Al-Irja’ adalah mengakhirkan amal dari iman, bahwa iman adalah hanyalah tashdiq (pembenaran) dalam hati atau bersamaan dengan tashdiq dalam ucapan. Ini adalah pemikiran Murji’ah yang tersebar diantara kaum muslimin dalam keadaan mereka tidak menyadarinya. Tashdiq (iman dalam hati) juga membutuhkan pembenaran. Dan yang membenarkan tashdiq iman dalam hati adalah ucapan lisan dan amal jawarih."

6) Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

قال الشيخ ابن باز رحمه الله (مجلة المشكاة المجلد الثاني ، الجزء الثاني/279، 280) رداً على من زعم أن العمل شرط كمال": لا ، لا ، ما هو بشرط كمال ، جزء، جزء من الإيمان . هذا قول المرجئة ، المرجئة يرون الإيمان قول وتصديق فقط".

Syaikh Ibnu Baz –rahimahullah- ketika membantah orang yang menyangka bahwa amal (hanyalah) syarthul kamal (syarat kesempurnaan) iman, beliau berkata  : “Tidak …. Tidak, amal bukanlah syarthul kamal  iman, bahkan amal merupakan bagian dari iman, ini adalah ucapan Murji’ah, Murji’ah menganggap bahwa iman hanyalah ucapan dan tashdiq (pembenaran dalam hati).” [Majalah Al-Misykah jilid 2, juz  2/279,280]

7) Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

وقال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله (شريط يتضمن أسئلة إدارة الدعوة بقطر)عن مقولة اشتهرت عند القائلين بإسلام تارك أعمال الجوارح حيث قالوا : }لا يكفر المسلم حتى يترك أصل الإيمان القلبي{ ، وأن : }جمهور العلماء وليس المرجئة يقولون بنجاة تارك العمل{. قال الشيخ منكراً هاتين القاعدتين :"هؤلاء يريدون سفك الدماء واستحلال الحرام لماذا صاحب هذا الكتاب ما أصل أصول أهل السنة والجماعة كما أصلها شيخ الإسلام ابن تيمية في العقيدة الواسطية ؟".
Ketika ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah-, perkataan sebagian orang tentang islamnya seorang yang meninggalkan amal jawarih, ucapan mereka (yang berpemahaman Murji’ah) : “seorang muslim tidak dikafirkan hingga ia meninggalkan ashlul iman dalam hati, dan jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan amal jawarih akan selamat (dari kekafiran). 

Syaikh Ibnu Utsaimin mengingkari  dua kaidah di atas seraya berkata : “Mereka menginginkan tertumpahnya darah, menghalalkan yang haram, kenapa penulis kitab itu tidak membuat Ushul Ahlus-Sunah Wal Jama’ah sebagaimana ushul yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah !?”.

8) Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah

وسئل الشيخ صالح الفوزان حفظه الله (المنتقى من فتاواه:2/9) عن قول بعض الناس : إن عقيدة أهل السنة والجماعة أن العمل شرط في كمال الإيمان وليس شرطاً في صحة الإيمان فقال الشيخ :"هو قول مرجئة أهل السنة ، وهو خطأ ، والصواب أن الأعمال داخلة في حقيقة الإيمان ، فهو اعتقاد وقول وعمل ، يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية".

Ditanyakan kepada Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafidzahullah- ucapan sebagian orang bahwa “Aqidah Ahlus-Sunah wal Jama’ah menyatakan  amal merupakan syarthul kamal iman dan bukan syarat sahnya iman”, maka Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab : “ini adalah ucapan Murji’ah Ahlus-Sunah, ini ucapan yang salah, yang benar bahwasanya amal termasuk dalam hakikat iman, iman adalah i’tiqad, ucapan dan amal, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

9) Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi hafidzahullah

قال فضيلة الشيخ عبد العزبز الراجحي ــ حفظه الله ــ (شريط أسئلة وأجوبة في الإيمان والكفر/ السؤال الثاني) : لما سئل عمن يقول: (الإيمان قول وعمل واعتقاد لكن العمل شرط كمال فيه) ، ويقول أيضا: (لا كفر إلا باعتقاد) ، فهل هذا القول من أقوال أهل السنة أم لا ؟

Ditanyakan juga kepada Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi –hafidzahullah- ucapan seorang, “iman merupakan ucapan, amal dan i’tiqad, akan tetapi amal hanyalah syarthul kamal  iman” dan juga ucapan, “tidak ada kekafiran kecuali dengan i’tiqad” apakah ucapan ini termasuk ucapan ahlu sunah atau bukan?

 قال الشيخ : ليست هذه الأقوال من أقوال أهل السنة أهل السنة يقولون : الإيمان هو قول باللسان وقول بالقلب وعمل بالجوارح وعمل بالقلب ، ومن أقوالهم : الإيمان قول وعمل ؛ ومن أقوالهم : الإيمان قول وعمل ونية ، فالإيمان لا بد أن يكون بهذه الأمور الأربعة : (أ) قول اللسان وهو النطق باللسان. (ب) قول القلب وهو الإقرار والتصديق. (ج) عمل القلب وهو النية والإخلاص. (د)عمل الجوارح . فالعمل جزء من أجزاء الإيمان الأربعة ، فلا يقال : العمل شرط كمال أو أنه لازم له فإن هذه أقوال المرجئة ولا نعلم لأهل السنة قولا بأن العمل شرط كمال. وكذا قول من قال : ( لا كفر إلا باعتقاد ) فهذا قول المرجئة ومن أقوالهم : ( الأعمال والأقوال دليلٌ على ما في القلب من الاعتقاد ) وهذا باطل ، بل نفس القول الكفري كفر ونفس العمل الكفري كفر كما مر في قول الله تعالى (قل أباللّه وآياته ورسوله كنتم تستهزئون*لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم([التوبة:64,65] أي : بهذه المقالة.

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi menjawab : “ini bukanlah ucapan dari pendapat Ahlus-Sunah, Ahlus-Sunah menyatakan bahwa iman adalah ucapan lisan dan hati, amalan badan dan amalan hati…..Maka tidak boleh dikatakan bahwa amal jawarih termasuk syarthul kamal (syarat kesempurnaan) atau ia hanyalah konsekuensi iman, karena ini adalah ucapan Murji’ah. Kami tidak mengetahui adanya ucapan (ulama) Ahlus-Sunah yang menyatakan bahwa amal merupakan syarat kesempurnaan iman. Begitu pula ucapan “tidak ada kekafiran kecuali dengan keyakinan” adalah ucapan Murji’ah…..”

10) Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Ibrahim Az-Zahim (Dosen Fakultas Syariah di Universitas Islam Madinah) hafidzahullah

قال الشيخ الدكتور عبد الله بن إبراهيم الزاحم (مقدمة كتاب التبيان لعلاقة العمل بمسمى الإيمان: ح) :"فإني أود التنبيه على عبارة الحافظ ابن حجر رحمه الله حين أراد التفريق بين قول أهل السنة وقول المعتزلة في تعريف الإيمان وبيان حده ... إذ قد فهم منها بعض الفضلاء أن الأعمال الصالحة كلها شرط كمال عند السلف. وهذا خطأ يقع فيه كثير من طلاب العلم ممن لم يمحص قول السلف في هذا الباب ، فإن هذه العبارة عند السلف يراد بها آحاد الأعمال لا جنسها ، أي : أن كل عمل من الأعمال الصالحة عندهم شرط لكمال الإيمان ، خلافاً للمعتزلة الذين يرون أن كل عمل شرط لصحة الإيمان ، لأن الإيمان عند السلف يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية ، وليس مرادهم : أن جنس الأعمال شرط لكمال الإيمان ، ولأن هذا يقتضي صحة الإيمان بدون أي عمل ، وهذا لازم قول المرجئة ، وليس قول أهل السنة".

Syaikh Dr. Abdullah bin Ibrahim Al-Zahim berkata : “Aku memberikan catatan pada ungkapan Al-Hafidz Ibnu Hajar ketika ingin membedakan antara ucapan Ahlus-Sunah dan Mu’tazilah dalam pengertian iman dan menjelaskan batasannya. Ketika sebagian fudhala’ memahami bahwa seluruh amalan shalih termasuk syarthul kamal dalam pandangan salaf. Ini adalah kesalahan yang terjatuh padanya banyak para penuntut ilmu yang belum mendalami ucapan salaf dalam bab ini. Karena ungkapan yang semacam ini yang  dimaksudkan oleh salaf hanyalah sebagian amalan bukan jinsul ‘amal (jenis amal)…bukanlah maksud ucapan salaf bahwa jinsul-‘amal  termasuk syarat kamalul iman karena hal ini melazimkan sahnya iman tanpa melakukan amalan sedikitpun. Dan ini adalah kelaziman dari ucapan murji’ah dan bukan ucapan Ahlus-Sunah."

11) Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Qarni hafidzahullah berkata :

وقال الشيخ الدكتور عبد الله بن محمد القرني في (مقدمة كتاب التبيان لعلاقة العمل بمسمى الإيمان: ذ):"فمن ظن أن دخول الجنة يمكن أن يكون لمن أقرَّ بالشهادتين ولم يلتزم بأي عمل في الظاهر ــ مع عدم العذر في ذلك ــ فإنه يلزمه إخراج العمل عن مسمى الإيمان ، وموافقة المرجئة في هذا الباب"

“Barangsiapa yang menyangka bahwa seorang bisa masuk ke dalam surga hanya dengan mengikrarkan syahadatain tanpa melazimkan sedikitpun dari amalan dzahir –tanpa udzur- maka kelaziman dari ucapannya adalah mengeluarkan amal dari iman, sama dengan pemikiran Murji’ah dalam bab ini

Nash-nash dan fatwa para ulama di atas menunjukkan dengan sangat jelas (tanpa perlu ta’wil lagi) bahwa ungkapan “tidak kafirnya orang yang meninggalkan amal secara keseluruhan” adalah sebagian ungkapan Murji’ah, walaupun yang menyatakan mengakui bahwa iman adalah keyakinan hati, perkataan dan amal jawarih. Tatkala kita meyakini sebagian saja dari keyakinan Murji’ah maka kita telah terjatuh dalam kesalahan yang fatal dalam aqidah.

Memang benar ungkapan Imam Al-Barbahari rahimahullah bahwa orang yang meyakini iman adalah keyakinan hati, perkataan dan amal telah berlepas diri dari pemikiran irja’ dari awal hingga akhirnya , namun yang perlu dicermati adalah apakah konsekuensi dari apa yang ia ucapkan sesuai dengan aqidah ahlus-sunah ataukan mengarah pada keyakinan Murji’ah!?

Lihat juga artikel :


1. Apakah Orang Yang Hanya Bermodal Syahadat Lalu Meninggalkan Seluruh Amal Kewajiban Dalam Syariat Dikatakan Muslim? bag. 2


2. Apakah Orang Yang Hanya Bermodal Syahadat Lalu Meninggalkan Seluruh Amal Kewajiban Dalam Syariat Dikatakan Muslim? bag. 3


3. Istilah Jinsul A'maal Bukan Bid'ah


Mudah-mudahan bermanfaat,

Sumber : “Aqwal Dzil ‘Irfan fi Anna A’malal Jawarih Dakhilah Fi Musammal Iman

17 comments:

  1. Saya tidak akan menanggapi seluruh artikel, hanya sebagian saja. Maaf, ada beberapa kesalahan yang saya kira cukup fatal dalam artikel di atas :

    1. Antum menafsirkan bahwa al-iimaanul-waajib = ashlul-iman (lihat dalam perkataan Ibnu Taimiyyah yang antum sitir). Ini keliru. Karena al-iimaanul-waajib itu adalah martabat setelah ashlul-iimaan, dimana martabat tersebut memang mengharuskan dilakukannya faraaidl. Atau pendek kata, al-iimaanul-waajib itu tidak akan terwujud tanpa melakukan amal-amal yang diwajibkan. Oleh karenanya Syaikhul-Islaam berkata sebagaimana yang antum kutip :

    لا يتصور وجود إيمان القلب الواجب مع عدم جميع أعمال الجوارح

    Adapun Murji'ah berpendapat bahwa al-iimaanul-waajib itu tetap terpelihara dan sempurna meskipun ia meninggalkan kewajiban. Ini disepakati oleh seluruh firqah Murji'ah. Syaikhul-Islam Ibnu taimiyyah berkata :

    ظنهم أن الإيمان الذي في القلب يكون تاماً بدون شيء من الأعمال؛ ولهذا يجعلون الأعمال ثمرة الإيمان ومقتضاه، بمنزلة السبب مع المسبب ولا يجعلونها لازمة له‏.‏ والتحقيق أن إيمان القلب التام يستلزم العمل الظاهر بحسبه لا محالة، ويمتنع أن يقوم بالقلب إيمان تام بدون عمل ظاهر

    “(Termasuk kekeliruan mereka, yaitu Murji’ah adalah) prasangka mereka bahwa iman di dalam hati akan menjadi sempurna tanpa adanya amal sedikitpun. Karena itu mereka menjadikan amal-amal sebagai buah dari iman dan hasilnya, sama seperti kedudukan sebab dan akibat. Mereka tidak menjadikan amal sebagai satu keharusan bagi iman. Padahal, iman yang sempurna di dalam hati mewajibkan amal dhaahir menurut kadarnya. Sudah pasti itu. Tidak mungkin ada iman yang sempurna di dalam hati tanpa adanya amal dhaahir….. [Al-Iimaan oleh Ibnu Taimiyyah, hal. 160-161 & 162].

    Perhatikan kata ‘sempurna’ di atas yang menjadi ciri khas Murji’ah.

    Untuk maraatib iman, Syaikh 'Abdullah bin 'Abdil-Hamiid Al-Atsariy berkata saat menjelaskan hal tersebut :

    المرتبة الأولى: (أصل الإيمان):

    ويسمى أيضاً (الإيمان المجمل) أو (مطلق الإيمان).

    وهذه المرتبة من الإيمان غير قابلة للنقصان؛ لأنها حد الإسلام، والفاصل بين الإيمان والكفر، وهذا النوع واجب على كل من دخل دائرة الإيمان

    .......

    المرتبة الثانية (الإيمان الواجب):
    ويسمى أيضاً (الإيمان المفصل) أو (الإيمان المطلق) أو (حقيقة الإيمان).
    وهذه المرتبة تكون بعد مرتبة (أصل الإيمان) ويكون صاحبها ممن يؤدي الواجبات ويتجنب الكبائر والمنكرات، ويلتزم بكل تفصيلات الشريعة؛ تصديقاً والتزاماً وعملاً، ظاهراً وباطناً؛ حسب استطاعته، وبقدر ما يزيد علمه وعمله يزداد إيمانه، وإذا ارتكب بعض الصغائر؛ يكفر عنه حسناته واجتنابه للكبائر، ولكن المتورع عن الصغائر أكمل إيماناً ممن يقع فيها.
    وصاحب هذه المرتبة؛ موعود بالجنة بلا عذاب؛ وينجو من الدخول في النار؛ إن مات على ذلك

    Pahami dulu istilah-istilah Syaikhul-Islaam dalam kitabnya.

    Adapun perkataan Syaikhul-Islaam sendiri sudah sangat jelas :

    كما قال أهل السنة‏:‏ إن من ترك فروع الإيمان لا يكون كافرًا، حتى يترك أصل الإيمان‏.‏ وهو الاعتقاد ‏

    “Sebagaimana dikatakan Ahlus-Sunnah : Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan cabang-cabang iman tidaklah menjadi kafir, hingga ia meninggalkan ashlul-iimaan, yaitu i’tiqaad...” [Al-‘Uquudud-Durriyyah, hal. 96].

    فأما أصل الإيمان الذي هو الإقرار بما جاءت به الرسل عن الله تصديقًا به وانقيادًا له، فهذا أصل الإيمان الذي من لم يأت به فليس بمؤمن؛

    Dan ashlul-imaan yang berupa iqraar (penetapan) terhadap segala sesuatu yang dibawa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Allah dengan pembenaran dan ketundukan terhadapnya, maka inilah ashlul-iimaan yang barangsiapa tidak mempunyainya, maka ia bukan mukmin” [Majmu’ Al-Fataawaa, 7/638].

    الدّينُ القائمُ بالقلبِ من الإيمانِ علماً وحالاً هو الأصل ، والأعمالُ الظّاهرةُ هي الفروعُ ، وهي كمالُ الإيمانِ

    “Agama tegak dengan iman di hati secara ilmu dan keadaannya merupakan pokok. Dan amal-amal dhaahir merupakan cabang-cabang (iman), dan ia adalah kesempurnaan iman” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 7/354].

    Sangat jelas, tanpa perlu dita'wilkan lagi.

    [belum lagi penjelasan para imam lain tentang apa itu ashlul-imaan]

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Ath-Thabariy rahimahullah ketika menjelaskan sebagian pendapat Ahlus-Sunnah dalam masalah iman, berkata :

    قال بعضهم الإيمان معرفة بالقلب وإقرار باللسان وعمل بالجوارح فمن أتى بمعنيين من هذه المعاني الثلاثة ولم يأت بالثالث فغير جائز أن يقال أنه مؤمن ولكنه يقال له إن كان اللذان أتى بها المعرفة بالقلب والإقرار باللسان وهو في العمل مفرط فمسلم

    [At-Tabshiir fii Ma’aalimid-Diin, hal. 187].

    Simak perkataan Ath-Thabariy di atas. Masih disebut muslim orang yang hanya mendatangkan ma’rifah dalam hati dan pengakuan dalam lisan. Sangat jelas, dan tidakperlu ta’wil atas perkataan beliau ini.

    Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan salah satu permasalahan dalam kitabnya :

    وَمَن ضيّعَ الأعمالَ كلَّها فهُوَ مؤمِنٌ عاصٍ ناقصُ الإيمانِ ، لا يكفُر

    “Barangsiapa yang mengabaikan keseluruhan amal, maka ia mukmin yang bermaksiat lagi kurang dalam imannya, tidak dikafirkan” [Al-Muhallaa, 1/40-41].

    Sangat jelas, tidak perlu dita’wilkan macam-macam. Mungkin saja ada orang yang akan menuduh Ibnu Hazm beraqidah Murji’ah,.... akan tetapi Syaikhul-Islam akan membelanya dengan perkataannya :

    وكذلك أبو محمد بن حزم فيما صنفه من الملل والنحل إنما يستحمد بموافقة السنة والحديث مثل ما ذكره في مسائل ‏[‏القدر‏]‏ و ‏[‏الإرجاء‏]‏ ونحو ذلك بخلاف ما انفرد به من قوله في التفضيل بين الصحابة‏.

    [Majmuu’ Al-Fataawaa, 4/18-19].

    Ibnu Taimiyyah mengakui bahwa dalam permasalahan irjaa’, Ibnu Hazm berkesesuaian dengan madzhab Ahlus-Sunnah. Tidak ternukil kritik para ulama terdahulu kepada Ibnu Hazm dalam masalah irjaa’.

    4. Tentang perkataan Ibnu ‘Uyainah. Dari segi sanadnya mungkin perlu ditahqiq keabsahannya. Sisi kritisnya adalah pada Suwaid bin Sa’iid. Suwaid bin Sa’iid bin Sahl Al-Harawiy Al-Hadatsaaniy – atau Al-Anbaariy - , Abu Muhammad (سويد بن سعيد بن سهل ، الهروى الحدثاني ، و يقال له الأنباري ، أبو محمد); seorang yang shaduuq bagi dirinya, namun ketika ia mengalami kebutaan, ia ditalqinkan yang bukan haditsnya. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 140 H, dan wafat tahun 240 H. Dipakai oleh Muslim dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 423 no. 2705]. Syaikh Al-Albaaniy melemahkan haditsnya dalam beberapa tempat dalam kitabnya [lihat Mu’jam Asamiyyir-Ruwaat, 2/249-252]. Apalagi riwayat Sufyaan ini hanya ada pada jalur sanad ini saja.

    Intinya, riwayat Ibnu ‘Uyainah ini tidak shahih. Saya tidak perlu memperpanjang perkataan.

    5. Tentang perkataan Ibnu Rahawaih, maka itu perlu didudukkan. Jika misalnya kita pegang perkataan Ibnu Rahawaih sebagaimana yang antum pahami, niscaya Ahmad bin Hanbal (sebagaimana saya tulis riwayatnya di atas) termasuk Murji’ah dalam klasifikasi ini. Begitu juga sebagian imam yang saya sebut di atas. Namun kedudukan permasalahannya adalah : Bahwasannya Murji’ah itu berpendapat barangsiapa yang telah menancapkan imannya dalam hati dan mengikrarkan hal itu dengan lisannya, maka segala kemaksiatan yang diperbuat oleh anggota jawaarihnya tidak akan bisa memudlaratkan imannya tersebut, apalagi membuatnya kafir. Dalam konteks perkataan tersebut, beliau mencontohkan kemaksiatan meninggalkan faraaidl. Wallaahu a’lam.

    ReplyDelete
  4. 6. Perkataan Syaikh Muhammad bin Amaan Al-Jaamiy,.... maka itu bukan mahalun-nizaa’ dalam persoalan yang antum anggap sebagai ta’qibnya. Karena jelas di awal beliau berkata :

    الإيمان في القلب ولو صحَّ إيمان القلب لصحَّ إيمان الجوارح وإيمان اللسان. هذا هو الإرجاء المنتشر بين المسلمين

    Saya harap antum memahami kalimat ini – bukan sekedar menukil saja. Ghullat Murji’ah berkata bahwasannya jika telah sah iman di dalam hati, maka sah pula iman jawaarih dan lisan. Ini namanya mengeluarkan amalan lisan dan jawaarih dari iman, karena iman menurut mereka hanya dalam hati saja. Maka ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tulisan saya yang antum anggap keliru itu.

    7. Begitu pula dengan perkataan Syaikh Ibnu Baaz. Saya tidak habis mengerti mengapa ini dijadikan hujjah dalam permasalahan ini. Saya tidak pernah mengatakan bahwa amal itu merupakan syarthul-kamaal. Coba antum cek kembali tulisan saya. Yang ada di tulisan saya adalah perkataan Ibnu Taimiyyah, Al-Marwaziy, dan yang lainnya bahwasannya amal itu merupakan kamaalul-iimaan, dan ia merupakan juz’un minal-iimaan. Dan yang perlu antum perhatikan sebelum berbanyak-banyak menukil adalah,.... bagaimana perbedaan di kalangan ulama dalam menempatkan amal jawaarih dalam ashulul-iimaan. Jika mereka menganggap ada amal jawaarih yang ditinggalkan menyebabkan pelakunya kafir (misal : shalat), maka jadilah amal tersebut bagian dari shihhatul-iimaan (dan masuk dalam ashlul-iimaan). Namun jika tidak, maka ia hanya bagian dari kamaalul-iimaan.

    Perhatikan soal jawab yang dari Syaikh Ar-Raajihiy berikut :


    السؤال: خرج بعض المعاصرين بأقوال جديدة في الإيمان وقال: إن العمل شرط كمال في الإيمان وليس شرط صحة، فما صحة ذلك؟

    الجواب: لا أعلم لهذا القول أصلاً، وذلك أن جمهور أهل السنة يقولون: الإيمان قول باللسان، وتصديق بالقلب، وعمل بالقلب، وعمل بالجوارح، والإيمان عمل ونية يزيد بالطاعة وينقص بالمعاصي،

    فالعمل جزء من الإيمان، والإيمان مكون من هذه الأشياء، من تصديق القلب وقول اللسان وعمل الجوارح وعمل القلب، فكل هذه أجزاء الإيمان، فلابد من أن يقر المرء باللسان ويصدق بالقلب ويعمل بقلبه ويعمل بجوارحه.

    والمرجئة يقولون: الأعمال ليست من الإيمان، ولكنها دليل على الإيمان، أو هي من مقتضى الإيمان أو هي ثمرة الإيمان. أما القول بأن العمل شرط كمال أو شرط صحة فلا أعلم له أصلاً من قول المرجئة ولا من قول أهل السنة ، فليس العمل شرط كمال ولا شرط صحة، وإنما هو جزء من الإيمان،

    والقول بأنه شرط كمال أو صحة لا يوافق مذهب المرجئة، ولا مذهب جمهور أهل السنة، بل قد يقال: إنه يوافق مذهب المرجئة من جهة أنهم أخرجوا الأعمال عن مسمى الإيمان في الجملة، فهو أقرب ما يكون إلى مذهب المرجئة،

    فالذي يقول: إن العمل شرط كمال أو شرط صحة نقول له: هذا مذهب المرجئة التي أخرجت الأعمال عن مسمى الإيمان، فإما أن تقول: العمل داخل في مسمى الإيمان أو جزء من الإيمان، وإما أن تقول: العمل ليس من الإيمان،

    فإن قلت: العمل ليس من الإيمان فأنت من المرجئة، سواء أقلت: شرط كمال، أم قلت: شرط صحة، أم قلت: هو دليل على الإيمان، أم قلت: هو مقتضى الإيمان، أم قلت: هو ثمرة الإيمان، فكل من أخرج العمل من الإيمان فهو من المرجئة، ولكني لا أعلم أن المرجئة جعلوا الأعمال شرط كمال للإيمان.

    الشيخ عبد العزيز الراجحي

    sumber : http://albaidha.net/vb/showthread.php?t=29560.

    Untuk perkataan Ibnu Baaz yang memutuskan perkara yang antum sorot, mungkin lebih baik antum menampilkan perkataan beliau yang ini :

    ReplyDelete
  5. Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut :

    العُلماءُ الذينَ قَلوا بعدم كُفْرِ مَنْ تَرَكَ أَعمالَ الْجوارح - مع تَلَفُّظِهِ بالشهادتين، ووجودِ أصلِ الْإيمان القلبي؛ هل هم من المُرجئة ؟!

    Ulama yang berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan amal-amal jawaarih (anggota badan) yang bersamaan dengan orang tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat dan keberadaan ashlul-iimaan di hatinya; apakah mereka (ulama tersebut) termasuk golongan Murji’ah ?”.

    Beliau menjawab :

    هذا من أهل السنة والجماعة؛ فمن ترك الصيام، أو الزكاة، أو الحج : لا شك أڽَّ ذلك كبيرة عند العلماء؛ ولكن على الصواب : لا يكفر كفرا أكبر.
    أما تركُ الصلاة : فالراجح : أنه كافر كفرا أكبر إذا تعمد تركها.
    وأما تركُ الزكاة والصيام والحج : فإنه كفر دون كفر.

    Mereka ini termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Barangsiapa yang meninggalkan puasa, zakat, atau haji; maka tidak diragukan bahwa hal itu termasuk dosa besar menurut para ulama. Akan tetapi yang benar dalam permasalahan ini : Tidak dikafirkan dengan kufur akbar (murtad).

    Adapun permasalahan meninggalkan shalat, yang raajih : Ia dihukumi kafir akbar apabila sengaja meninggalkannya. Sedangkan meninggalkan zakat, puasa, dan haji; maka ia adalah kufrun duuna kufrin (kufur ashghar)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 28/144-145].

    Silakan renungi perkataan beliau di atas, terutama yang saya bold. Dan hubungkan antara pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang dikeluarkan. Ingat, beliau di sini mengambil thariqah pentarjihan dari aqwaal Ahlus-Sunnah.

    8. Perkataan Ibnu ‘Utsaimiin..... Ini juga saya tidak paham, dari sisi mana menjadi hujjah untuk menta’qib apa yang telah saya tulis. Dan justru ini semakin menunjukkan antum tidak tahu apa yang antum bicarakan dan tulis. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Ini tanya jawab Syaikh selengkapnya di situs sahab : http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=105495.

    Antum bisa bahasa Arab kan ?. Saya harapkan tahu bahwa konteks kalimat syaikh :

    س : سائل يقول ما قول الشيخ - حفظه الله - في تدريس هذا الكتاب للناشئة وهو مشتمل على العناوين الآتية المكتوبة بالخط البارز سنذكرها لكم :-
    يقول " لا يكفر المسلم حتى يترك أصل الإيمان القلبي "

    ج : أنا قلت في هذا اللقاء إن تارك الصلاة كافر ولو كان مقراً بوجوبها

    السائل يقول في موطن آخر " جمهور العلماء وليس المرجئة يقولون بنجاة تارك ...

    قاطعه الشيخ رحمه الله تعالى قائلاً :

    هؤلاء يريدون سفك الدماء واستحلال الحرام لماذا صاحب هذا الكتاب ما أصل أصول أهل السنة والجماعة كما أصلها شيخ الإسلام ابن تيمية في العقيدة الواسطية أما أن لا يكون لهم هم إلا التكفير (جنس العمل -نوع العمل -آحاد العمل) وما أشبه ذلك لماذا …. (كلمة غير واضحة للشيخ حفظه الله)

    Justru perkataan Syaikh itu menjadi hujjah atas antum......

    [perhatikan, ketika ditanya bahwa seorang muslim tidak dikafirkan kecuali ia meninggalkan ashlul-iman dalam hati. Lalu beliau menjawab kafir jika meninggalkan shalat. Ini adalah jawaban pertarjihan dari khilaf yang ada di kalangan Ahlus-Sunnah. Kemudian ditanyakan kembali tentang pendapat jumhur ulama dimana sebelum pertanyaan selesai, syaikh memotong dengan jawaban di atas yang bisa antum baca. Perkataan syaikh yang antum nukil itu terpotong mas..... Justru syaikh sedang mengkritik kaum takfiriy yang membawa-bawa isu jinsul-‘amal. Kalau antum bawa ke konteks irjaa’, ya mana tepat ?. Sejak kapan pencelaan takfir itu ditujukan pada Murji’ah – karena mereka itu anti takfir - ?].

    Itu saja lah yang dapat saya tanggapi dari tulisan antum di atas.

    ReplyDelete
  6. Dan kemudian, seandainya antum anggap saya keliru dan salah memahami perkataan para imam, saya tanya pada antum apa makna perkataan Al-Baihaqiy berikut :

    ذهبَ أكثرُ أصحابِ الحديثِ إِلىَ أنّ اسمَ الإيمانِ يجمَعُ الطاعاتِ كلِّها فرضِها ونفلِها ، وأنّها عَلى ثلاثةِ أقسامٍ :
    فقِسمٌ يكفُرُ بتركِه وَهُوَ اعتقادُ ما يجِبُ اعتقادُه وإقرارٌ بِما اعتقدَه .
    وقِسمٌ يفسُقُ بتركِه أو يعصِي ولاَ يكفُرُ بهِ إذا لَم يجحَدْه وَهُوَ مفروضُ الطّاعاتِ كالصّلاةِ والزّكاةِ والصّيامِ والحَجّ واجتنابِ المحارِمِ .
    وقِسمٌ يكونُ بتركِه مخطِئاً لِلأَفضَلِ غيرَ فاسِقٍ ولاَ كافِرٍ وَهُوَ ما يكونُ مِن العبادَاتِ تَطوّعاً

    “Jumhur ahlul-hadiits berpendapat bahwa nama iman itu mengumpulkan semua ketaatan, baik yang wajib/fardlu maupun yang sunnah. Dan iman itu terbagi menjadi tiga bagian :

    Pertama, bagian yang mengkafirkan apabila ditinggalkan, yaitu i’tiqaad terhadap semua hal yang diwajibkan i’tiqaad-nya, serta mengikrarkan apa-apa yang di-i’tiqad-kannya itu.

    Kedua, bagian yang menyebabkan kefasiqan atau bermaksiat apabila ditinggalkan, namun tidak menyebabkan kekafiran apabila ia tidak mengingkarinya. Hal itu adalah ketaatan-ketaatan yang diwajibkan, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan menjauhi yang diharamkan.

    Ketiga, bagian yang bila ditinggalkan menjadikan seseorang keliru/terluput akan hal-hal yang lebih utama, tanpa menyebabkan kefasikan ataupun kekafiran. Hal itu seperti pada ibadah-ibadah tathawwu’ (sunnah)” [Al-I’tiqaad, hal. 202].

    Apakah perkataan Al-Baihaqiy di atas yang menisbatkan pada jumhur ulama merupakan jumhur Murji’ah ?.

    Bagaimana juga dengan perkataan Asy-Syaafi’iy berikut sebagaimana dinukil Asy-Syiiraaziy :

    الإيمان هو التصديق والإقرار والعمل، فالمخلُّ بالأول وحده منافق، وبالثاني وحده كافر، وبالثالث وحده فاسق ينجو من الخلود النار ويدخل في الجنة

    “Iman itu adalah tashdiiq, iqraar, dan amal. Ketiadaan hal pertama saja, maka ia munafik. Ketiadaan hal kedua saja, maka ia kafir. Dan ketiadaan hal ketiga saja, maka ia fasik yang selamat dari kekekalan neraka dan (kemudian) masuk ke dalam surga” [‘Umdatul-Qaari’, 1/175].

    ?????

    Orang yang faqih itu bukan hanya pandai ‘membantah’, tapi pandai juga menjawab dengan alasannya.

    Nasihat saya : Sangat rugi seandainya hasrat untuk berbicara dan menulis mengalahkan waktu untuk muthala’ah dan memahami permasalahan.

    ReplyDelete
  7. Kitab Aqwaal Dzawil-'Irfaan di atas telah ada ta'qiib nya yang sangat bagus berjudul : Burhaanul-Bayaan bi-Tahqiiqi Annal-'Amal minal-Iimaan, tulisan Abu Shuhaib Al-Minsyawiy dan Abu Haani' Asy-Syatharaat. Antum bisa unduh kitab itu di sini atau sini.

    Atau antum bisa baca kitab yang berjudul Dzammul-Irjaa' tulisan Khaalid bin 'Abdillah Al-Mishriy, yang bisa antum unduk di sini (sampul) dan sini. (isi) [format PDF]. Kalau mau langsung nukik ke permasalahan, silakan buka halaman 31 dalam pasal : Manhaj As-Salaf fii Taarikil-'Amal Adh-Dhaahir. Atau loncat saja ke kesimpulannya di 463 no. 10 yang mengatakan :

    أهل السنة منهم من يكفر بترك المباني كالصلاة والزكاة، ومنهم من لا يكفر بترك سائر عمل الجوارح بعد إتيانه بالشهادة والاعتقاد

    Sebagai catatan saja, kitab ini (Dzammul-Irjaa') telah dipublikasikan di sahab . [So don't worry if U 'afraid' with al-halabiy's 'syubuhaat'].

    Atau kitab-kitab masalah iman, selengkapnya bisa antum unduh di halaman blog saya :

    Kitab-Kitab Kontemporer yang Membahas tentang Iman dan Kufur (Membantah Tuduhan Salafiy = Murji’).

    Sekali lagi pesen saya, perbanyak muthala'ah dan jangan buru-buru menyimpulkan dari sedikit lembar yang dibaca.

    Semoga bermanfaat.

    Baarakallaahu fiik.

    ReplyDelete
  8. Sebenarnya komentar di atas ada yang kurang (yaitu komentar saya no. 2 dan 3) sehingga lompat ke no. 4. Beberapa kali saya coba publish, selalu gagal.

    Oleh karenanya, ta'qib saya ke antum ini saya tuliskan juga di :

    Pokok Iman (Ashlul-Iimaan) Menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

    Silakan selengkapnya merujuk ke sana.

    ReplyDelete
  9. Assalamu'alaikum wr wb.
    Maaf Ustadz mungkin ini ada breaking news, kabar yang perlu diketahui umat Muslim, tetapi bila menurut antum tidak penting ya silakan dihapus saja tulisan saya & link ini: http://ishamerdeka.blogspot.com/2012/03/seorang-muslim-indonesia-menginjak.html

    ReplyDelete
  10. Afwan Ustadz komentar balik saya di artikel "Apakah Orang Yang Hanya Bermodal Syahadat Lalu Meninggalkan Seluruh Amal Kewaqjiban Dalam Syariat Dikatakan Muslim bag.2...

    waffaqaniyallah waiyyakum

    ReplyDelete
  11. Dalam beberapa tempat dalam Al-Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terkadang memutlakkan kalimat Al-Iman Al-Wajib dengan Ashlul Iman. Diantaranya pada ucapan :

    "فإذا لم يتكلم الإنسان بالإيمان مع قدرته دل على أنه ليس في قلبه الإيمان الواجب الذي فرض الله عليه"

    “Ketika seorang tidak mau mengucapkan kalimat iman (syahadat) sedangkan ia mampu untuk mengucapkannya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat dalam hatinya Al-Iman Al-Wajib yang Allah wajibkan atasnya”. [Al- Fatawa 188/8]

    Seandainya kalimat Al-Iman Al-Wajib dalam konteks di atas dipahami maknanya dengan kadar tambahan dari Ashlul Iman, tentunya kurang tepat bahkan bisa dikatakan keliru, karena ucapan syahadat merupakan Ashlul Iman itu sendiri.

    Apakah ucapan syahadat termasuk Al-Iman Al-Wajib menurut Ustadz, yang jika ditinggalkan maka pelakunya masih dikatakan muslim !?

    Dalam kesempatan lain, Syaikhul Islam rahimahullah berkata :

    "وقد لا يحصل لكثير منهم منها ما يستفيد به الإيمان الواجب فيكون كافرا زنديقا منافقا جاهلا ضلا مضلا ظلوما كفورا و يكون من أكابر أعداء الرسل و منافقي الملة"

    “Terkadang tidak tercapai (maksud yang diharapkan) dari kebanyakan mereka, diantaranya tidaklah bermanfaat baginya Al-Iman Al-Wajib hingga ia menjadi seorang kafir, zindiq, munafiq, bodoh, sesat lagi menyesatkan, banyak berbuat dzalim dan melakukan perbuatan kekufuran. Kemudian ia menjadi musuh para rasul dan kaum munafiq umat ini.”[Al-Fatawa 584/7]

    Apakah ketiadaaan Al-Iman Al-Wajib dalam iman menjadikan seorang dikafirkan, dikatakan munafik, dan menjadi musuh para rasul !?

    Tentunya lebih tepat jika Al-Iman Al-Wajib dalam konteks di atas, dimaknakan dengan Ashlul Iman.

    Sehingga ungkapan Al-Iman Al-Wajib dari Syaikhul Islam rahimahullah terkadang bermakna kadar tambahan dari Ashlul Iman dan terkadang bermakna Ashlul Iman itu sendiri, tidak ada pertentangan diantara keduanya. Allahua’lam

    ReplyDelete
  12. secara tidak sengaja, saya menemukan di toko kitab sebuah kitab berjudul "Al-Iman 'indas Salaf wa Kasyfu Syubuhati Al-Mutaakhirin fi Masail Al-Iman" cetakan Maktabah Ar-Rusyd (2 jilid tebal) berisi bantahan terhadap kitab-kitab yang antum sebutkan dalam link. saya berharap antum pun mau membacanya.

    Di dalamnya penulis mendudukkan perkataan ulama tentang ashlul iman dan furu'nya, menjawab pernyataan ulama yang masih mujmal seperti perkataan Ibnu Hazm, Ibnu Rajab, nukilan-nukilan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dll rahimahumullah.

    Dan yang paling menakjubkan adalah nukilan-nukilan perkataan Ulama Muta'akhirin seperti Mufti Saudi Arabia Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh bin Baz, Syaikh Ar-Rajihi dalam permasalahan yang diperselisihkan..

    saya harap antum tidak menyatakan setelah ini, semoga Allah meluaskan ilmu para ulama di atas karena pengingkaran mereka yang sangat keras terhadap pendapat Murji'ah Al-Fuqahaa atau karena muthola'ah mereka yang kurang terhadap kitab-kitab dalam masalah iman..

    ReplyDelete
  13. Syaikh Ar-Rais dalam Al-Ilmam Syarh Nawaqidh Al-Islam menjawab syubhat sebagian orang yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan seluruh amal jawarih.

    Syaikh menyatakan yang maknanya, nukilan-nukilan yang mereka bawakan dari Syaikhul Islam untuk melegalkan bahwa meninggalkan seluruh amal jawarih hanya menjadikan fasik (tidak kafir) adalah keliru dari beberapa sisi :

    1) Syaikhul Islam sendiri dalam Al-Fatawa berpendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat secara total (tidak pernah shalat seumur hidupnya), tentunya orang yang hanya meninggalkan shalat lebih ringan dibandingkan jika meninggalkan seluruh amal jawarih.

    Apakah jika meninggalkan sholat saja dikafirkan, lalu meninggalkan seluruh amal jawarih tidak dikafirkan ?? pendalilan yang bukan pada tempatnya

    2) Syaikhul Islam dalam Al-Fatawa menukil ijma' dari ulama-ulama salaf sebelum beliau seperti Asy-Syafi'i, Al-Ajury, dll bahwa tidak sah iman seserang tanpa amal dhahir.

    Lalu pantaskah seorang menukil ucapan Syaikhul Islam lalu menyatakan iman sah hanya dengan keyakinan hati dan lisan, walaupun ia tidak beramal sedikitpun dengan amal jawarihnya ??

    ReplyDelete
  14. Iman seseorang tidak sempurna tanpa amal dhahir ini adalah satu permasalahan, lalu kafirnya seorang yang meninggalkan seluruh amal dhahir itu permasalahan lain.

    قال سهل بن عبد الله التستري رحمه الله كما نقله شيخ الإسلام في(الفتاوى: 7/171) مقراً له أنه سئل عن الإيمان ما هو ؟ فقال : "هو قول ونية وعمل وسنة ؛ لأن الإيمان إذا كان قولاً بلا عمل فهو كفر ، وإذا كان قولاً وعملاً بلا نية فهو نفاق ، وإذا كان قولاً وعملاً ونية بلا سنة فهو بدعة".وانظر(الإبانة:2/814)

    - Imam Sahl bin Abdillah At-Tasturi rahimahullah seperti dinukil Syaikhul Islam dalam Al-Fatawa 171/7 karena sependapat dengannya.

    Beliau ditanya tentang apa itu iman? Beliau menjawab : “Iman adalah ucapan, niat, amal dan sunah. Karena jika iman (seorang) hanya ucapan TANPA AMAL maka ia KAFIR, jika hanya ucapan dan amal tanpa niat maka itu adalah nifaq, jika hanya ucapan, amal dan niat tanpa sunah maka itu adalah bid’ah” [Al-Ibanah 814/2]

    قال أبو طالب المكي رحمه الله كما نقله شيخ الإسلام ( الفتاوى: 7/333) :" ومن كان عقده الإيمان بالغيب ولا يعمل بأحكام الإيمان وشرائع الإسلام فهو كافر كفراً لا يثبت معه توحيد ; ومن كان مؤمنا بالغيب مما أخبرت به الرسل عن الله عاملاً بما أمر الله فهو مؤمن مسلم ... فلا إيمان إلا بعمل ولا عمل إلا بعقد

    - Imam Abu Thalib Al-Makki rahimahullah seperti dinukil Syaikhul Islam rahimahullah dalam Al-Fatawa 333/7 berkata :

    “barangsiapa yang beriman kepada yang ghaib (beriman kepada Allah, malaikatNya dan hari akhir wallahua’lam) tanpa beramal dengan ahkamul iman dan tanpa mengamalkan syariat-syariat Islam maka ia KAFIR dengan KEKAFIRAN yang SEBENAR-BENARNYA. Tidak terdapat tauhid dalam hatinya. Barangsiapa yang beriman kepada yang ghaib seperti yang rasul kabarkan dari Allah dan beramal dengan apa yang Allah perintahkan maka ia mu’min muslim…tidak SAH iman TANPA AMAL, tidak pula sah amal tanpa ‘aqd”.

    وقال(الفتاوى:7/611) :"ومن الممتنع أن يكون الرجل مؤمناً إيماناً ثابتاً في قلبه ؛ بأن الله فرض عليه الصلاة والزكاة والصيام والحج ويعيش دهره لا يسجد لله سجدة ولا يصوم من رمضان ولا يؤدي لله زكاة ولا يحج إلى بيته ، فهذا ممتنع ، ولا يصدر هذا إلا مع نفاق في القلب وزندقته لا مع إيمان صحيح ، ولهذا إنما يصف سبحانه بالامتناع عن السجود الكفار"

    - Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata dalam Al-Fatawa 611/7 :

    “Seorang tidak dikatakan beriman dengan iman yang tsabit dalam hatinya jika Allah mewajibkan padanya shalat, zakat, puasa, haji lalu selama hidupnya ia belum pernah sujud kepada Allah sekali pun, tidak pula puasa ramadhan, tidak menunaikan zakat, tidak pula haji ke baitullah.

    Tidak mungkin dikatakan beriman, perbuatan ini hanyalah ada pada seorang yang terdapat NIFAQ dan ZINDIQ dalam hatinya. Sifat ini tidak mungkin bersamaan dengan iman yang benar (dalam hatinya).

    Oleh karena itu, Allah subhanah hanyalah mensifati orang-orang yang TIDAK MAU SUJUD dengan sebutan KAFIR”.

    ungkapan Syaikhul Islam yang antum nukil masih global dan bukan pada perkara yang diperselisihkan (mahallun niza'), berbeda dengan ungkapan Syaikhul Islam yang saya nukil di atas maknanya sangat jelas dan gamblang.

    Apakah ungkapan Syaikhul Islam di atas tepat jika dipahami bahwa tidak SEMPURNA iman tanpa amal, sementara dalam paragraf yang sama beliau mengiringkannya dengan ungkapan kekafiran.

    ReplyDelete
  15. Syaikh Ar-Rais dalam kitab yang sama, beliau juga mengingatkan diantara sebab yang menjadikan mereka keliru dalam memahami perkataan ulama dalam permasalahan iman adalah ketika mereka memahami ungkapan "meninggalkan العمل"

    Al-Amal disini bisa bermakna jinsul 'amal (meninggalkan seluruh amalan dhahir), dan bisa pula bermakna meninggalkan sebagian amal dhahir seperti meninggalkan shalat atau zakat atau haji.

    contohnya adalah ungkapan Ustadz sendiri ketika menukil ucapan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah, Syaikh pernah ditanya sebagai berikut :

    العُلماءُ الذينَ قَلوا بعدم كُفْرِ مَنْ تَرَكَ أَعمالَ الْجوارح - مع تَلَفُّظِهِ بالشهادتين، ووجودِ أصلِ الْإيمان القلبي؛ هل هم من المُرجئة ؟!

    “Ulama yang berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan AMAL-AMAL jawaarih (anggota badan) yang bersamaan dengan orang tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat dan keberadaan ashlul-iimaan di hatinya; apakah mereka (ulama tersebut) termasuk golongan Murji’ah ?”.

    Beliau menjawab :

    هذا من أهل السنة والجماعة؛ فمن ترك الصيام، أو الزكاة، أو الحج : لا شك أڽَّ ذلك كبيرة عند العلماء؛ ولكن على الصواب : لا يكفر كفرا أكبر.
    أما تركُ الصلاة : فالراجح : أنه كافر كفرا أكبر إذا تعمد تركها.
    وأما تركُ الزكاة والصيام والحج : فإنه كفر دون كفر.

    “Mereka ini termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Barangsiapa yang meninggalkan PUASA, ZAKAT, ATAU HAJI; maka tidak diragukan bahwa hal itu termasuk dosa besar menurut para ulama. Akan tetapi yang benar dalam permasalahan ini : Tidak dikafirkan dengan kufur akbar (murtad).

    Adapun permasalahan meninggalkan shalat, yang raajih : Ia dihukumi kafir akbar apabila sengaja meninggalkannya. Sedangkan meninggalkan zakat, puasa, dan haji; maka ia adalah kufrun duuna kufrin (kufur ashghar)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 28/144-145].

    Syaikh bin Baz rahimahullah memahami meninggalkan AMAL dalam konteks pertanyaan penanya dengan meninggalkan sebagian amal seperti puasa, zakat atau haji. Ini sangat jelas

    seandainya Syaikh memahami meninggalkan AMAL dalam pertanyaan dengan meninggalkan SELURUH AMAL JAWARIH tentu Saikh tidak akan mengecualikan shalat di dalamnya.

    Seorang yang berikrar dengan kalimat syahadat, memiliki ashlul iman dalam hati namun meninggalkan sebagian amal jawarih seperti zakat, puasa atau haji, maka tidak ada perselisihan tentang keislamannya (bukan mahallun niza')

    ReplyDelete
  16. Jika antum menyatakan penamaan Jinsul 'Amal adalah istilah yang bid'ah, tidak dikenal di kalangan salaf.

    maka ungkapan antum perlu diteliti kembali, Siapakah yang mengunakan penamaan Jinsul 'Amal dalam perkataan-perkatannya.. Tidak lain yang menyatakannya adalah Syaikh bin Baz, Syaikh Ar-Raajihy, Syaikh Abdul Aziz Ar-Rais, Syakh Bakr Abu Zaid, Syaikh Shalih Al-Fauzan dll rahimahumullah, ...

    Apakah pantas jika kita membid'ahkan ungkapan para ulama di atas ??

    jika antum mau bukti, mudah-mudahan Allah memberikan saya taufiq untuk menampilkan ungkapan-ungkapan ulama yang saya sebutkan di atas tentang penggunaan istilah Jinsul 'Amal dalam fatawa mereka..

    saya kira antum pun telah mengetahuinya.,

    ReplyDelete
  17. Mengenai istilah jinsul a'mal, saya telah menuliskannya di artikel http://abul-harits.blogspot.com/2012/12/istilah-jinsul-amaal-bukan-bidah.html

    Mudah-mudahan menambah faidah buat antum.

    ReplyDelete