Tuesday, June 24, 2014

Tidak Mampu Menunaikan Nazar? Ini Kafarahnya


Tanya:

Assalamualaikum Wr Wb
saya Hari muktie Adnan
umur 20 tahun asal samarinda

Mas saya mau tanya kan saya pernah bernadzar. Saya punya kebiasaan buruk yang tdak bisa saya sebutkan di web ini. Saya pernah bernadzar jika saya melakukan dosa itu saya akan berpuasa sebanyak 2x. Terus saya lama kelamaan merasa tdak sanggup melaksanakannya lantaran. Saya kebetulan adalah orang yg memiliki pekerjaan berat. Yang lebih mengandalkan otot. Dan saya merasa tidak sanggup jika saya puasa maka saya tidak punya tenaga dalam melakukan aktifitas saya ini. 

Setelah membaca artikel anda sebelumnya tentang seorang ibu yang bernadzar mau membelikan karpet untuk mesjid tetapi malah membelikan keramik krn alasan tertentu dan itu diperbolehkan krn yg penting bukan bentuk nadzarnya melainkan niatnya untuk mendekatkan diri kepda allah agar terealisasii dari nadzar itu maka tidak lah menjdi masalah membelikan keramik meski berniat karpet. Maka biasa kah jika saya mengganti nadzar saya yg awalnya puasa 2 hari ini dengan bentuk lain seperti menghabiskan 2 juz alquran jikka melakukan dosa itu atau membaca yasiin sebanyak 20 kali yang dilakukan secara berangsur-angsur tetapi tidak ditunda terlalu molor. Apakah bisa? Yang penting tujuannya mendekatkan diri kepada Allah. Mh0n dijawab terimakasih

Jawab:

Wednesday, May 28, 2014

Bolehkah Membicarakan Pemimpin yang Berkuasa di Wilayah Lain?

Yang diwajibkan taat kepada pemimpin pada suatu daerah hanyalah penduduk daerah tersebut. Adapun warga dari luar daerah tersebut tidaklah diharuskan untuk taat kepada pemimpin tersebut, tidak secara sya’i tidak pula secara undang-undang. Semua warga hanyalah diwajibkan taat kepada pemerintah yang tertinggi, yaitu Presiden. Oleh karena itu, apabila ada warga dari luar daerah pemerintah tersebut membicarakan pemerintah itu, maka itu tidak menjadi masalah” [Cetak tebal dan garis miring dari saya]

Saya akan memberikan contoh agar permasalahannya lebih jelas, misalkan Ali adalah seorang warga Jawa Timur, karena ia hanya diwajibkan taat kepada Gubernur Jawa Timur beserta jajaran Pemerintah Daerahnya, lalu ia membicarakan aib Gubernur Jakarta, lalu mengeksposnya di khalayak umum. Ia menganggap perbuatan itu boleh-boleh saja dan tidak menyalahi syariat…

Benarkah ungkapan di atas?

Jawabnya: keliru, meskipun nash-nash yang berkaitan dengan mendengar dan taat hanyalah berlaku bagi pemimpin yang menguasai wilayah tempat ia berada, namun hal itu tidak melazimkan kebolehan membicarakan penguasa wilayah lain. Berikut beberapa alasannya:

Thursday, May 22, 2014

Menikahi Calon Laki-laki Pilihan Ibu atau Menunggu Sang Kekasih Datang Melamar?

Tanya:

“Assalamualaikum ustadz..

Saya mohon nasihat ustadz berikut penjelasan dalil2nya.. Saya perempuan berusia 23 tahun, sejak SMA saya memiliki teman dekat seorang laki2, setelah lulus kuliah teman saya bekerja di pulau lain..dia mengatakan ingin menikahi saya, dan skrg ingin mencari materi dan mempersiapkan ilmunya dulu.. saya pun menyetujui dan kita hidup masing2..ibu saya sudah tahu masalah ini, bahwa saya akan menunggu dia..tapi tiba2 ibu saya menjodohkan saya dengan laki2 lain..

Tentu saja saya merasa sangat keberatan, tapi ibu memaksa dan mengatakan ini takdir yg harus saya jalani dan saya tidak boleh memilih karena saya seorang perempuan dan saya harus mengikuti kemauan ibu saya dlm hal kebenaran..ayah saya sudah meniggal, saya hanya punya kakak laki2, kakak saya pun memihak kepada ibu karena semua keputusan di tangan ibu..

Ibu saya mengatakan tidak bermasalah dgn calon yang saya pilih, ibu menyukai, hanya saja calon dari ibu lebih tinggi ilmu agamanya dan satu mazhab dgn ibu yaitu salaf..jadi ibu memaksa dan menunggu sampai saya jawab iya, tapi saya tidak mau..
Pdhl calon yg saya pilih pun tidak ada kekurangan secara syar’i..
Mohon nasihatnya..terima kasih” (Verra)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah,

Perhatikan beberapa point berikut:

Pertama, tidak sepantasnya bagi wanita yang telah dewasa untuk menunda pernikahan. Dengan menikah, seorang wanita dapat lebih menjaga pandangan dan kehormatannya, serta menyempurnakan separuh agamanya.

Wednesday, May 21, 2014

Jika Wanita Hamil Mengandung Anak Zina

Tanya:

“Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang “Taubat dari Perbuatan Zina”, sebagai berikut:

1. Apa dalil wajibnya istibra` ar-rahim dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?

2. Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?

3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?

4. Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?” (Fulanah di Solo)

Jawab:

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Saribini hafizhahullah menjawab:

Langit Akan Tetap Bening

Anak muda itu memanggil saya Abang. Sebenarnya tidak ada hubungan darah antara saya dan dia. Umur kami terpaut sepuluh tahunan. Namun, dikarenakan hubungan baik di antara kami, saya sering menyebutnya Adik. Sementara dia memanggil saya Abang dalam keseharian. Barangkali ia menganggap saya benar-benar seperti Abangnya, sehingga hal-hal pribadi pun sering ia bagikan dengan saya.

Itulah Bang, sulit juga rasanya untuk melupakan dia… Gimana ya, Bang?  Meskipun tidak aku harapkan, terkadang wajahnya muncul dalam mimpi-mimpiku.

Memang, Bang… orangnya cantik dan baik. Itu bukan menurutku sendiri, Bang. Orang-orang pun bilang seperti itu juga. Ah… susahlah, Bang!”, keluhnya kepadaku suatu saat.

Karena ia memberikan kepercayaan kepada saya, beberapa saran dan masukan pun saya berikan untuknya. Memposisikan seolah-olah sebagai Abangnya. Saya sampaikan, ”Sudahlah… tidak usah kau pikirkan sampai seperti itu. Belum tentu orang yang kau pikirkan saat ini, sedang memikirkanmu juga. Orang baik akan berpasangan dengan orang baik. Sebaliknya pun demikian. Kalau kau baik, jodohmu pun baik, insya Allah…”

Saturday, May 17, 2014

Manakah yang Lebih Utama, Membeli Kitab atau Bersedekah?

Tanya:

“Ketika aku memiliki sejumlah harta dari hasil yang halal, manakah yang lebih utama, aku gunakan untuk membeli kitab-kitab ilmu, aku sedekahkan sebagian hartaku atau aku sedekahkan semuanya?

Jawab:

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziiz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menjawab,

إذا كان عنده مال وهو يحتاج إلى كتب العلم، كتب العلم أولى، يشتري كتب العلم حتى يستفيد منها، أو عنده من يحتاج إليها في البلد..... مكتبة، يستفيد منها طلبة العلم فإنه يشتري كتباًً تنفع الناس مثل الصحيحين، السنن الأربعة، مثل المغني مثل غيره من الكتب النافعة، تفسير ابن كثير، تفسير البغوي، تفسير ابن جرير إلى غير ذلك من الكتب المفيدة، كونه يشتري كتب مفيدة في مكتبة يحتاجها هو أو يحتاجها أولاده أو إخوانه أو طلبة العلم أو يجعلها في مكتبة المسجد، أو في مكتبة عامة يأتي إليها الناس ويستفيد منها الناس فهذا أولى من الصدقة، وأما إذا كان ما هناك حاجة إلى مكتبة لأن هناك كتب تغني عن شرائه فإذا تصدق بها على الفقراء من أقاربه أو غيرهم فهذا حسن، لأنها قربى إلى الله جل وعلا، لكن الكتب إذا كانت لمصلحة حاجة أولى وأفضل لأن نفعها أعظم.

Thursday, May 15, 2014

Jika Dijodohkan Orang Tua Dengan Calon Yang Tidak Disukai, Apa Yang Harus Aku Lakukan?

Tanya:

1. “Assalamualaikum uztad.. saya mau tanya.. saya dijodohin oleh orang tua saya dengan kakak ipar saya, dia beranak satu. Tetapi saya sudah punya pacar dan pacar saya berniat untuk melamar saya, tapi keluarga saya tidak merestui dan bersikap keras agar saya tetap menikah dengan kakak ipar saya, tapi saya tidak mencintai dia dan menganggap dia seperti kakak ipar saya. Berat bagi saya untuk melepaskan pacar saya tapi di sisi lain saya juga sayang dengan orang tua saya. Apa yang harus saya lakukan ustad? terimakasih” (Nurmalla Ayu)

2. “Assalamualaikum ustad… Saya ingin bertanya tentang permasalahan saya.. Saya wanita sudah berumur 29tahun dan sudah ingin menikah.. Saya sudah dilamar hingga 3x oleh pacar saya.. Tapi orangtua tidak pernah setuju hanya karena alasan saya harus bersuamikan pemuda yang lebih kaya raya.. Saya sedih ustad..

Untuk menjaga dosa kami berdua memilih untuk berkarir terlebih dahulu dan berada terpisah kota (Long Distance Relationship)..
Kami bersama-sama berjuang untuk menabung mencari sebongkah berlian yang orang tua inginkan untuk calon suami saya..
Lamaran terakhir malah orang tua saya memberikan kesaksian palsu bahwa pernah melihat pacar saya mencium kakak kandung saya, dan kakak mengiyakan..