Tuesday, August 25, 2015

Menafkahi Istri atau Ibu yang Lebih Didahulukan?

Saat membaca sebuah status di forum share faidah ilmu BBG As-Sunnah, muncul keganjalan di hati saya. Di sana terdapat pertanyaan fiqih seputar masalah nafaqah yang dijawab oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi hafizhahullah, berikut redaksi pertanyaannya:

MENAFKAHI IBU ATAU ISTRI
Tanya:
Apabila seorang laki-laki telah menikah,kepada siapakah nafkah dan tanggungjawabnya yang lebih utama, istri ataukah ibunya?
Jawab:
Seorang anak lelaki yang menikah tentu tanggung jawabnya kepada istrinya, kecuali bila tak ada lagi yang bertanggung jawab kepada kebutuhan ibunya, maka sang ibu menjadi tanggung jawab anaknya. Bila kebutuhan ibu yang demikian berbenturan dengan kebutuhan istri, maka dia lebih mengedepankan kebutuhan ibunya, karena hak ibunya yang besar terhadap dirinya, bahkan hal itu sampai diulangi Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sebanyak tiga kali, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim. Wallahu a'lam bish shawab. (Ustadz Abdul Mu'thi)” [Disalin dari forum BBG As-Sunnah di sini]

Dalam artikel ini, saya berusaha meluruskan jawaban dari Al-Ustadz hafizhahullah yang saya pandang keliru, karena diantara kewajiban seorang muslim adalah menyampaikan nasehat kepada saudaranya. Hal ini bukan dalam rangka membuka aib seorang muslim atau ingin merendahkan kehormatannya, namun sebagai pengamalan terhadap firman Allah ta’ala dan hadits Rasulullah berikut:

Hukum Mengumumkan Berita Kematian Ulama atau Seorang Muslim di Masjid dan Media Sosial (Internet)

Pertanyaan:

“Apa hukum mengumumkan wafatnya ulama atau kematian selain ulama di internet dan media-media sosial, apakah perbuatan ini termasuk an-na’yu (mengumumkan kematian yang dilarang) atau bukan?"

Asy-Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah  menjawab:

Monday, August 24, 2015

Bolehkah Bermadzhab? (Rincian Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Pertanyaan:

Apa hukum bermadzhab? Apakah bermadzhab termasuk perbuatan tercela? Apa hukum menyandarkan diri kepada madzhab tertentu seperti Al-Hambali, Asy-Syafi’i dan Al-Maliki?

Asy-Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab:

“Permasalahan ini memiliki tiga perincian:

Sunday, August 23, 2015

Hukum Buang Air Menghadap atau Membelakangi Kiblat

Jumhur ulama berpendapat tidak boleh menghadap ataupun membelakangi kiblat saat buang air[1], berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أتيتم الغائط؛ فلا تستقبلوا القبلة بغائط ولا بول

 “Apabila kalian mendatangi tempat buang air, janganlah menghadap kiblat ataupun membelakanginya saat buang air besar dan kecil” [HR. Al-Bukhari, 1/498 dan Muslim, 1/224]

Juga diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang kalian duduk untuk buang air, janganlah menghadap kiblat ataupun membelakanginya” [HR. Muslim, 1/224]

Buang air menghadap atau membelakangi kiblat diharamkan jika terpenuhi dua syarat:

Friday, August 21, 2015

Problem Keluarga Seputar Nikah Syubhat

Tanya:

Asalammualaikum pak ustat ...sy mau bertanya pak ustat apakah talak di saat nikah syubhat itu sah karna suami sering menalak saat itu? Karna nikah syubhat itu adalah akad yg rusak/ tidak sah karna saat menikah saya keadaan hamil sampai terlahir 3 anak anak pertama laki2 dan ke dua anak sy perempuan bagai mana nasib anak2 saya pak ustad, apakah anak sy adalah anak zina ?dan jika terlanjur anak yg lahir di nikah syubhat adlh anak sah secara syari?

Sy pernah melakukan akad ke dua pak tpi saat itu sy belum bertobat karna blum mengerti hanya ad rasa ingin berumah tangga yg baik memulai hidup baru....di akad ke dua terjadi ucap talak satu...tanpa adanya kata2 rujuk sampai masa iddah habiss apakah dengan berhubungan suami istri itu salah satu rujuk...karna ingin berhati2 dan sudah mengetahui syariat yg sebenarnya saya pun bertobat dengan amat menyasal memohon ampun ke pada allah begitupun suami....kami bertobat...dan melakukan akad yg ke tiga kali....tanpa istibra..disini apakah yg saya lakukan dengan suami sudah benar pak ustad mohon jawabanya pak ustad wasalam.... (Laras Putri)

Jawab:

Waa’alaikumussalam warahmatullah,

Nikah Syubhat adalah menikah dengan akad yang tidak sah secara syar’i dalam keadaan kedua pasangan tidak mengetahui kalo akad nikahnya tidak sah. Beberapa konsekuensi dari nikah syubhat:

Sunday, July 5, 2015

Mengenal Wanita yang Haram Dinikahi, Siapakah Mahram-mu?

Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.
Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.
Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).

Saturday, July 4, 2015

Bolehkah Makan Sampai Kenyang?

Sering terdengar di telinga kita ungkapan “makanlah setelah lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang”. Ungkapan tersebut berasal dari sebuah riwayat hadits yang disandarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

نَحْنُ قَوْمٌ لا نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوعَ، وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَع

“Kami adalah suatu kaum yang tidak makan hingga lapar, apabila makan kami tidak makan sampai kenyang”

Shahihkah riwayat tersebut?