Sunday, June 19, 2016

Shalat Sunah Ba’diyah Isya’ Dikerjakan Setelah Taraweh

Pertanyaan:

Ustadz, bolehkah shalat ba’diyah isya pada bulan Ramadhan dilakukan setelah pelaksanaan tarawih dan witir? Dan adakah dalil yang membolehkannya?

Dari: Ibnu Adi

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, Waktu yang tepat untuk shalat ba’diyah isya adalah persis setelah shalat isya, sebelum tarawih. Hanya saja, para ulama membolehkan untuk dikerjakan setelah tarawih atau di tengah-tengah tarawih, bagi yang tidak sempat mengerjakannya setelah isya.
Dalam Kasyaful Qana’, Al-Buhuti – ulama hambali –  mengatakan,

Hukum Puasa Tanpa Sahur

Tanya:

Pak ustadz saya mau tanya apa hukum nya, orang melakukan puasa tanpa sahur ???
Dari: Eka

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ada satu pernyataan tentang sahur yang banyak tersebar di masyarakat kita. Pernyataan itu adalah: inti puasa adalah sahur.
Allahu a’lam, dari mana asal pernyataan ini, dan siapa yang membuatnya. Yang jelas, gara-gara pernyataan ‘ngawur’ ini, sebagian kaum muslimin ada yang meragukan keabsahan puasanya karena pagi harinya dia tidak sahur. Sampai ada yang membatalkan puasanya, gara-gara dia tidak sahur. Padahal membatalkan puasa wajib tanpa alasan yang dibenarkan, termasuk dosa besar. Dan tidak sahur, tidak boleh dijadikan alasan pembenar untuk membatalkan puasa.

Thursday, May 26, 2016

Bolehkah Puasa Tanggal 30 Sya'ban?

Pertanyaan:

Ada hadis yang melarang puasa pada hari syak. apa itu hari syak? dan Apa makna hadis itu? Hari Selasa, Tanggal 9 Juli besok, bolehkah puasa?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari secara Muallaq, 3/27).

Saturday, May 21, 2016

Hutang Puasa Orang Tua yang Meninggal

Tanya:

Assalmu’alykum ustadz….

Ana mau tanya seputar hukum puasa dahulu sebelum ibu ana meninggal beliau titip pesan ke ana tuk diqadhakan ataw d bayarkan fidyah atas puasanya yang ditinggalkannya,bagaimana hukum meng-qadha atw fidyahnya apakah wajib
atau tidak? Jazakallahu khairan
Dari: A. Ghozi Putra

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من مات وعليه صيام صام عنه وليُّه

“Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya.” (HR. Bukhari 1952 dan Muslim 1147)

Thursday, May 12, 2016

Suami Istri Tidur Bersama di Satu Ranjang atau Terpisah?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca sebuah artikel yang berisi fatwa ulama yang menyatakan bahwa suami istri semestinya tidur di ranjang (tempat tidur) yang terpisah, karena tidur satu ranjang merupakan budaya barat. Benarkah ungkapan tersebut?

Memang sebagian ulama ada yang berpendapat demikian, diantaranya adalah guru kami Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi hafizhahullah. Beliau membawakan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا دعا الرّجُل امرأته إلى فراشه فلم تأتِهِ فبات غضبانًا عليها لعنتهَا الملائكة حتّى تُصْبحَ

“Apabila suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri tidak memenuhinya, kemudian suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat istri hingga waktu subuh” [HR. Al-Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436]

Wednesday, February 24, 2016

Hukum Shalat Berjama’ah Berdua Dengan Wanita Yang Bukan Mahram

Tanya:

Terimakasih ustadz atas jawabannya. Tetapi, apabila sang laki-laki telah sholat terlebih dahulu dan dia tidak tahu ada orang lain lagi kemudian datang seorang atau lebih wanita yg bermasbuk kpd laki-laki tersebut dengan ucapan spt sy sebutkan di atas, bagaimana seharusnya sikap si lelaki ini? apakah ia kemudian jadi imam dengan mengeraskan suara takbir, ataukah tetap shalat sendiri. dalam hal ini apakah dia tetap berdosa? karena kejadian spt ini sering terjadi di perkantoran2 yg tercampur antara laki-laki dan perempuan.

Afwan ustadz, satu permasalahan lagi. Karena ikhtilat adalah haram, apakah shalat berjamaah antara laki dan perempuan (laki-laki dan perempuannya banyak) tanpa sekat bahkan hampir berdempet shafnya karena musholanya sempit hukumnya haram juga?

Jawab:

Shalat berjamaah seorang laki-laki bersama wanita tidak lepas dari beberapa keadaan berikut:

Monday, February 15, 2016

Bolehkah Ayah Mewakilkan Wali Nikah Kepada Petugas KUA?

Tanya:

Apakah sah pernikahan jika wali nikah (ayah mempelai wanita) hadir pada akad nikah anaknya bersama saudara laki-laki dan anak laki-lakinya, tetapi sang ayah malah meminta agar pak imam atau pak KUA menikahkan anaknya ? Ini banyak terjadi di indonesia bagian timur.

Jawab:

Pada asalnya orang yang paling berhak menjadi wali nikah adalah ayah dari mempelai wanita, kemudian orang yang diberikan wasiat untuk menjadi wali nikah oleh ayah, kemudian kakek mempelai wanita dari pihak ayah (terus ke atas), kemudian anak laki-laki mempelai wanita, kemudian cucu laki-lakinya (terus ke bawah), kemudian saudara laki-lakinya seayah seibu, kemudian anak laki-laki dari saudara laki-lakinya seayah seibu, kemudian saudara laki-lakinya seayah, kemudian anak laki-laki dari saudara laki-lakinya seayah, kemudian pamannya dari pihak ayah, kemudian orang yang memerdekakannya (jika mempelai wanita adalah budak yang dibebaskan), kemudian hakim atau penggantinya.[1]

Sunday, February 7, 2016

Hukum Qunut Subuh, Bid'ah atau Sunah?

Para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in hingga imam madzhab yang empat berselisih tentang disyariatkannya doa qunut Subuh.

Pendapat pertama, qunut subuh disunahkan mudawamah (terus menerus dilakukan).

Diantara ulama yang berpendapat sunnahnya adalah Asy-Syafi’i, Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Shalih, Dawud Azh-Zhahiri dan Ahmad bin Hambal dalam salah satu riwayat rahimahumullah.

Monday, February 1, 2016

Hukum Menikahi Wanita Yang Dizinahi

Tanya:

Assalamualaikum Pak Ustad, saya seorang istri yang sedang hamil 8 bulan..pernikahan kami dilakukan pada bulan Oktober tahun 2013..

pertanyaan saya : pada bulan September 2013 (1 bulan sblm menikah), saya melakukan perbuatan zina dgn calon suami saya, kemudian akad nikah dilakukan 1 bulan sesudah zina tersebut dan di hari ke-6 haid, apakah saya sudah dianggap istibra krn akad dilakukan pd saat jelang selesai haid (sudah bersih tp belum mandi junub)??maaf krn pd waktu itu saya tidak tahu adanya hukum istibra dan skrg saya sedang belajar syariat..

bagaimana hukum pernikahan saya??haruskah mengulang akad nikah setelah melahirkan??apakah saya msh boleh berhubungan intim dengan suami??

Jawab:

Wa'alaikumussalam warahmatullah, perhatikan beberapa point berikut: