Friday, February 20, 2015

Hukum Memberi Salam Kepada Orang yang Shalat dan Bagaimana Cara Menjawab Salamnya?

Tanya: 

فضيلة الشيخ! ما حكم السلام على المصلي؟ وكيف يرد المصلي إذا سلم عليه؟

“Fadhilatus Syaikh, apa hukum memberi salam kepada orang yang shalat dan bagaimana cara orang yang shalat menjawabnya apabila ia diberi salam?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

السلام على المصلي لا بأس به إذا لم يخش أن يشغله ذلك عن صلاته، أو أن تفسد صلاته برد السلام على المسلم؛ لأن من العامة من لا يعرف؛ ربما إذا قلت له: السلام عليكم، قال: وعليكم السلام.
والأولى إذا كنت تريد أن تنتظر حتى يخرج من صلاته ثم تسلم عليه فهذا هو الأفضل، وإذا كنت لا تريد البقاء فاذهب ولا تسلم.
أما كيفية الرد فالرد باليد فقط، ترفع يدك إشارة إلى أنك قد فهمت، ثم إن بقي حتى تسلم، فرد عليه السلام باللفظ، وإن انصرف فالإشارة كافية


“Memberi salam kepada orang yang shalat tidak apa-apa, jika tidak menyibukkan orang yang disalami dari shalatnya atau tidak menyebabkan batalnya shalat orang tersebut saat ia menjawab salam seorang muslim[1]. Karena sebagian orang awam tidak tahu, mungkin apabila engkau memberi salam kepadanya, ia akan menjawab ‘wa’alaikumussalam’ (saat shalat –pen).

Apabila engkau ingin memberi salam, yang lebih utama bagimu adalah menunggu hingga ia menyelesaikan shalatnya, barulah engkau memberi salam kepadanya, ini yang lebih utama (afdhal). Apabila engkau tidak mau menunggu, maka pergilah, tidak perlu memberi salam.

Adapun cara menjawab salam (saat shalat –pen), cara menjawabnya hanya dengan tangan[2]. Engkau mengangkat tanganmu dengan memberikan isyarat yang menunjukkan bahwa engkau telah memahaminya. Apabila engkau masih memiliki waktu seusai salam dari solat, jawablah salamnya dengan ucapan. Apabila ia telah pergi, maka jawaban dengan isyarat telah mencukupi” [Liqa Al-Bab Al-Maftuh, 24/33]




[1] Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Tidak ada perselisihan di antara ulama bahwa orang yang berbicara secara sengaja (dalam shalat –pen) dan ia mengetahui hukumnya, maka shalatnya batal. Yang menjadi perselisihan hanyalah bagi orang yang lupa dan orang yang tidak tahu…” [Ad-Dararil Al-Mudhiyyah hal. 68] 


[2] Dalilnya adalah riwayat berikut:

 عن نافع، قال: سمعت عبد الله بن عمر يقول: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى قباء يصلي فيه، قال: فجاءته الأنصار فسلموا عليه وهو يصلي، قال: فقلت لبلال: كيف رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يرد عليهم حين كانوا يسلمون عليه وهو يصلي؟ قال: يقول هكذا وبسط ، وبسط جعفر بن عون كفه، وجعل بطنه أسفل وجعل ظهره إلى فوق

Dari Nafi’, ia berkata: aku mendengar Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke mesjid Quba untuk shalat di sana. Lalu datanglah suku Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau sedang shalat. Ibnu Umar berkata: ‘aku bertanya kepada Bilal: “Bagaimana engkau melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salam mereka ketika beliau sedang shalat?” Bilal menjawab: “begini” lalu ia membuka telapak tangan.

Ja’far bin Aun (salah satu perawi hadits) membuka telapak tangannya, ia menjadikan perut telapak tangannya di bawah, sedangkan punggung telapak tangannya di atas. [HR. Abu Daud no. 927, At-Tirmidzi no. 368 dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahumullah]

No comments:

Post a Comment