Thursday, April 25, 2013

Menukil Perkataan Imam Asy-Syafi’i untuk Membatalkan Ijma’ Salaf dalam Permasalahan Iman

Keanehan berikutnya, mereka menukilkan perkataan Asy-Syafi’i rahimahullah untuk membatalkan ijma’ yang juga dinukilkan dari Imam Asy-Syafi’i !!

Asy-Syaafi’iy rahimahullah (w. 204 H).

الإيمان هو التصديق والإقرار والعمل، فالمخلُّ بالأول وحده منافق، وبالثاني وحده كافر، وبالثالث وحده فاسق ينجو من الخلود النار ويدخل في الجنة

“Iman itu adalah tashdiiq, iqraar, dan amal. Ketiadaan hal pertama saja, maka ia munafik. Ketiadaan hal kedua saja, maka ia kafir. Dan ketiadaan hal ketiga saja, maka ia fasik yang selamat dari kekekalan neraka dan (kemudian) masuk ke dalam surga” [Dinukil Asy-Syiiraaziy dalam ‘Umdatul-Qaari’, 1/175]

­Syubhat mereka dapat dijawab dari beberapa sisi:


[Pertama] Perkataan Asy-Syafi’i di atas dinukil oleh Asy-Syiirazi rahimahullah. Beliau bermadzhab Asy’ari dalam permasalahan aqidah.

Asy-Syirazi rahimahullah berkata:

وأبوالحسن الأشعري إمام أهل السنة، وعامة أصحاب الشافعي على مذهبه، ومذهبه مذهب أهل الحق

“Abul-Hasan Al-Asy’ari adalah seorang imam ahlussunnah. Kebanyakan para sahabat Asy-Syafi’i berada di atas madzhab beliau. Madzhab Asy’ari merupakan madzhab ahlul haq.” [Thabaqat Asy-Syafi’iyyah, 3/376]

Al-Yafi’i rahimahullah berkata dalam kitab Mir’atul Janan:

ومنهم- أي ومن أئمة الأشاعرة -: الشيخ أبو إسحاق الشيرازي..

“Diantara mereka –yaitu para imam madzhab asya’irah- adalah Asy-Syaikh Abu Ishaq Asy-Syiirazi..”

Bagaimanakah aqidah Abul-Hasan Al-Asy’ari dalam permasalahan iman?

Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata:

الإيمان هو التصديق بالجنان، وأما القول باللسان والعمل بالأركان ففروعه، فمن صدق بالقلب، أي أقر بوحدانية الله تعالى، واعترف بالرسل تصديقا لهم فيما جاءوا به من عند الله صح إيمانه، حتى لو مات عليه في الحال كان مؤمنا ناجيا، ولا يخرج من الإيمان إلا بإنكار شيء من ذلك

“Iman adalah tashdiiq (pembenaran) dalam hati. Adapun perkataan dan amal jawarih, keduanya hanyalah cabang-cabangnya. Barangsiapa yang membenarkan dalam hati yaitu mengakui keesaan Allah ta’ala dan meyakini kebenaran ajaran yang dibawa oleh para rasul dari sisi Allah, maka sah imannya. Jika ia mati dalam keadaan tersebut, maka ia adalah seorang mukmin yang selamat. Tidak boleh mengeluarkan seseorang dari iman kecuali dengan mengingkari hal tersebut.” [Al-Milal wa An-Nihal karya Asy-Syihristani, hal. 101]

Kelaziman dari aqidah Asya’irah, Abu Thalib dan Iblis adalah muslim. Karena Abu Thalib meyakini keesaan Allah dan membenarkan ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hatinya (tashdiiq). Begitu pula Iblis, ia pun meyakini keesaan Allah dan meyakini kebenaran ajaran yang dibawa oleh para rasul shalawatullah ‘alaihim.

Asy-Syirazi menukil perkataan Asy-Syafi’i di atas untuk mendukung keyakinannya yang menyimpang dalam permasalahan iman.

[Kedua] Para ulama salaf semisal Imam Ahmad, Al-Lalika’i, Ibnu Bathah Al-Ukbari, Al-Ajurri, Al-Humaidi, Al-Khallal, Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman bin Hasan, Syaikh Ibnu Baz dan para ulama kibar mutaakhirin rahimahumullah, justru mereka menukilkan ijma’ salaf dalam permasalahan iman.

Kenapa mereka tidak membawakan perkataan Asy-Syafi’i rahimahullah yang dinukil oleh Asy-Syirazi, ketika menjelaskan permasalahan iman dalam kitab-kitab ushul aqidah ahlussunnah??

Jika ada yang berkata pada saya “antum muqallid !!”

Maka saya akan menjawab “lebih baik saya bertaklid pada para ulama salaf daripada harus bertaklid pada ulama asya’irah. Apalagi bertaklid pada nukilan tokoh-tokoh penyebar pemikiran Murji’ah akhir-akhir ini yang berisi syubhat !!” 

[Ketiga] Perkataan Asy-Syafi’i yang dinukil oleh Asy-Syirazi bertolak belakang dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i yang dinukil dari para imam ahlussunnah dalam kitab-kitab ushul aqidah.

Yang masyhur, para ulama menukil perkataan Asy-Syafi'i rahimahullah berikut,

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

وكان الإجماع من الصحابة و التابعين من بعدهم ومن أدركناهم يقولون الإيمان قول وعمل ونية لا يجزئ واحد من الثلاثة إلا بالأخر

“Para sahabat, tabi’in setelah mereka dan para ulama yang aku ketahui, mereka telah bersepakat (ijma’) bahwa iman adalah perkataan, amal dan niat. Tidak sah hanya mencukupkan salah satu dari yang lain (ketiganya harus terkumpul –pen-).” [Kitab Al-Iman hal.197]

Dinukil juga oleh Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa, 7/171 dan Al-Laalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah, 5/886

Kembali saya ingin menutup artikel ini dengan nasehat emas dari Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah, beliau berkata:

"Di dalam kitab salaf terdapat kecukupan, kita tidak lagi membutuhkan tulisan-tulisan baru yang berisi keraguan dan menimbulkan perbincangan dalam permasalahan yang agung ini. Fitnah (irja’) ini telah mati, maka tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk memunculkannya kembali. Agar tidak menimbulkan celah bagi para tukang fitnah dan perusak untuk (menebar fitnah) di antara Ahlus-Sunnah." [Muqaddimah Raf'ul Laimah]

Allahua’lam


Ditulis oleh Abul-Harits di Madinah, 16 Jumadil Akhir 1434 H

No comments:

Post a Comment