Tuesday, December 25, 2012

Ternyata Ia Seorang Pendeta (Diskusi Ustadz Abu Ibrahim dengan Pendeta)

Tak seperti biasanya, pada malam hari itu saya naik kendaraan umum untuk pulang ke rumah, sekitar jam sembilan malam. Saya menunggu di pinggir jalan daerah Jakarta Utara. 


Ternyata tak berlangsung lama tiba-tiba terlihat dari kejauhan ada angkutan umum yang datang, saya pun naik ke mobil tersebut dan memilih duduk di samping pak supir. Tiba-tiba pak supir bertanya kepadaku, “Mau ke masjid Al Fudhala..?”

Jawabku ringan, “Tidak pak.”

Pak supir pun kembali bertanya, “Mau ke maqam Mbah Priuk..?”

Jawabku, “Tidak pak.”

Terbesit di hati ini, wajar kalau dia bertanya seperti itu dengan penampilanku memakai busana muslim dan memang jalur angkutan yang saya naiki melewati maqam Mbah Priuk. Mobil pun terus melaju hingga sampai di RSUD Koja yang tepat bersebrangan dengan jalan arah masuk ke maqam Mbah Priuk, pak supir itu tiba-tiba kembali bertanya, “Maaf mas, saya mau tanya menurut mas bagaimana orang-orang yang datang ke Mbah Priuk?”

Mendengar pertanyaan seperti itu saya pun semangat untuk menjawabnya, “Saya tidak suka dengan apa yang mereka lakukan pak, karena hal itu dilarang agama.”

Belum selesai saya berbicara tiba-tiba ia berkata, “Iya mas, itukan sama saja nyembah syetan [1], bukan pergi ke masjid beribadah dan berdoa di sana malah pergi ke kuburan.”

Jawabku, “Ya tidak secara mutlak pak, kalau mereka yang datang ke kuburan mbah priuk lalu berdoa meminta kepadanya atau melakukan ibadah kepada kuburan tersebut berarti mereka telah menyembah selain Allah. Kalau seseorang datang lalu di sana dia beribadah kepada Allah, sengaja dia datang ke kuburan untuk beribadah kepada Allah di sisi kuburan maka yang seperti ini perbuatan haram pak. Dilarang dalam agama islam sarana menuju kesyirikkan.”

Lalu ia (pendeta) berkata lagi, “Saya muak dengan orang seperti itu. -bapak supir ini pemahamannya bagus terbetik di hati
Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Saya mas, pernah mobil ini disewa oleh beberapa ibu dan sebagian pemuda untuk nganterin mereka ke maqam Mbah Priuk, ketika di perjalanan salah seorang pemuda dari mereka berkata, ‘Bu sering-sering ke mbah priuk, saya saja hajatnya terpenuhi. Kalau ibu punya keinginan maka ke mbah priuk aja bu‘[2] Muak saya mendengar anak muda itu gayanya sengak, sama saja dia menyuruh nyembah syaithan (karena syaithan yang nyuruh menyembah selain Allah –ed).”

Karena saya melihat orang ini (supir) mempunyai pemahaman yang bagus. Artinya, bisa menilai bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesat padahal sebagian besar masyarakat dan tak jarang ada yang bergelar ustadz tidak bisa melihat hal itu sebagai sebuah kesesatan mendorong saya untuk bertanya,“Maaf pak, pemahaman bapak bagus, mungkin bapak punya latar belakang dulu pernah ikut pendidikan agama, atau orang tua bapak guru ngaji. Apa pak?”

Lalu supir itu berkata, “Mas biar gini-gini saya ini pelayan tuhan mas.“
Ketika sampai di sini awalnya saya tidak paham kemudian dia berkata lagi, “Saya ini pendeta.“

Kaget bukan kepalang saya, karena saya pikir sebelum saya tahu dia seorang pendeta, orang ini mempunyai pemahaman yang bagus. Karena inilah spontanitas saya berkata, “Kenapa tidak masuk islam pak?” Kata saya dengan penuh semangat.

Lalu ia mengalihkan pembicaraan dan berkata, “Saya ini seorang pendeta mas, saya ini biasa khutbah di gereja ini, gereja itu, saya punya inventaris mobil dari gereja.”

Saya hanya diam ketika itu, masih kaget dan berpikir supir di samping  saya ini adalah seorang pendeta. Lalu pendeta itu meneruskan, “Pernah suatu ketika jamaah (gereja –ed) di Semarang menelpon saya, ‘Pak, orang kampung di sini pada marah atas rencana mau dibangun gereja disini’, dia bilang mayoritas penduduknya memang muslim tidak ada yang kristen (seingat saya dia bilang begitu) akhirnya saya (pendeta) dibeliin tiket lalu pergi ke Semarang.”

Pendeta itu meneruskan ceritanya, “Sampai di sana sudah pada ngumpul masyarakat, ketua RT, dan pihak kepolisian, dan saya (pendeta) berkata ‘saya minta maaf tidak ijin kepada masyarakat, tapi saya sudah ijin kepada aparatur pemerintah’, lalu dia menyebutkan siapa  saja yang telah dia mintai izin (saya lupa dia menyebutkan siapa saja) untuk membangun gereja disini, ‘saya tidak mengganggu agama bapak dan jangan ganggu agama saya, akhirnya masyarakat disitu pada menerima, puji tuhan.“[3]

Saya ketika itu masih terdiam dan tidak engeh, sampai ketika pendeta ini sedikit-sedikit berkata puji tuhan, baru saya sadar orang ini sedang berusaha memperkenalkan agamanya kepada saya, ingin mempengaruhi atau mengajak saya kepada  agamanya, dari sinilah saya mulai  mencari celah untuk gantian saya yang berbicara. Ketika pendeta itu telah selesai berbicara barulah saya berkesempatan untuk bicara dan menanyakan suatu hal kepada pendeta tersebut “Menurut bapak agama bapak benar dari sisi apa?”

Pendeta itupun dengan sergap membalikkan, “Kalau agama situ gimana?“
Saya menjawab, “Kalau agama saya, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman :

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.“ (QS. Ali Imran: 19)
Baru mau melanjutkan membaca ayat selanjutnya, pendeta itu berkata, “Tidak jauh beda sama agama saya.“

Saya pun berkata, “Beda pak, Allah Ta’aala berfirman :

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Baru saya mau membaca ayat selanjutnya, pendeta itupun berkata, “Sama tidak jauh beda dengan agama saya.”

Saya pun berkata lagi, “Beda pak, Allah Ta’aala berfirman :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam.” (Qs. Al Maidah : 72)

Lihat pada ayat ini pak Allah katakan sebagai orang kafir orang yang mengatakan Allah adalah Isa. Beda pak agama saya dengan agama bapak.  Agama saya agama yang hak sedangkan agama bapak agama kekufuran”. Terdiam pendeta tersebut dengan wajah yang agak merah tersudut.

Lalu aku pun berkata  “Kenapa bapak mengatakan Nabi Isa sebagai anak tuhan, apakah karena Nabi Isa lahir tanpa seorang bapak?!”

Pendeta itupun berkata “Iya.”

Lalu aku pun berkata kembali, “Ada yang lebih hebat dari Nabi Isa dari sisi kelahiran. Nabi Adam lahir atau ada  tanpa seorang bapak dan seorang ibu. Hawa lahir atau ada tanpa seorang ibu. Apakah dengan ini mereka dikatakan anak Tuhan? Tidak pak. Mereka, Adam dan Isa adalah seorang Nabi tidak berhak untuk disembah. Lalu sekarang apa bedanya bapak dengan orang yang bapak kritik tadi bahwasannya mereka menyembah makhluk (kuburan), sedangkan bapak juga menyembah makhluk. Bapak menyembah makhluk dalam hal ini bapak menyembah Nabi Isa dan sebagian mereka menyembah makhluk yaitu orang yang dikubur di situ apa bedanya dengan bapak? Sama-sama menyembah makhluk.“

Lalu pendeta itu berkata, “Saya tidak banyak baca literatul tentang Isa.” Kata pendeta itu berkelit.

Lalu kata saya katakan, “Katanya bapak seorang pendeta.“

Lalu pendeta itu pun berkata terpojok, “Semua agama itu sama tinggal bagaimana pelakunya saja.“

Maka aku berkata “Tidak sama pak, kalau bapak katakan semua agama itu sama kenapa bapak tidak masuk agama ini atau agama itu katanya semua agama itu sama?! Islamlah agama yang hak (benar) adapun selain agama islam adalah orang kafir.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab (yahudi dan nasrani) dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Pendeta itu terdiam dan terpojok, lalu aku mengatakan kepadanya, “Kalau bapak ingin bahagia di dunia dan di akhirat maka dengan masuk islam pak. Islam yang benar yang tidak mencampurkan dengan kesyrikkan dan bukan juga dicampur dengan pemahaman terorisme.”

Kuajak pendeta tadi masuk islam. Dia pun hanya terdiam sambil  konsentrasi menyupir. Mobil pun terus melaju sampai pada tempat di mana saya harus turun. Akhirnya saya pun segera turun dan berjalan meninggalkan mobil tersebut.

Sambil berpikir, kenapa yah pendeta itu bertanya tentang kesesatan orang yang mengkramatkan mbah priuk. Terbetik di dalam hati dua hal; mungkin pendeta itu melihat kebodohan dan kesestan sebagian orang islam yang mengkeramatkan kuburan dan ingin meminta pandangan langsung dari orang islam atau pendeta itu melihat kebodohan dan kesesatan sebagian orang Islam yang mengkeramatkan kuburan dan menganggap itu bagian dari Islam.


Lalu setelah itu dia ingin mendebat orang  Islam atau yang pro dengan orang yang mengkeramatkan kuburan atau salah satu yang sering datang ke sana kemudian dia ingin menyampaikan kesesatan tersebut yang dia anggap sebagai ajaran islam kemudian dia ingin mengenalkan kepada agamanya.
Wallahu a’lam apa maksud pendeta tersebut tetapi hati ini cendrung pada kemungkinan yang kedua. Semoga Allah memberi hidayah kepadanya.


Catatan Kaki:


[1] Pada hakekatnya mereka menyembah syaithan, karena syaithan yang menyuruh mereka menyembah selain Allah

[2] Adakah kesyirikkan yang lebih nyata dari ini

Artinya, ”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsipa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Artinya, ”Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatau dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” (QS. Al-Maidah: 72)

Tidak ada yang dapat memberi manfaat dan mudharat kecuali Allah. Allah Ta’ala berfirman :

Artinya, ”Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya.“ (QS. Yunus : 107)

Artinya, ”Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am: 18)

[3] Terlepas dari cerita (yang disampaikan pendeta tadi -ed) ini benar atau tidak, kalau kita dianjurkan untuk berhati-hati dari berita orang fasik terlebih-lebih dari orang kafir apalagi kita ketahui bahwa mereka sering berbohong.


Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir Al-Jakarti dan dinukil oleh Abul-Harits dari rizkytulus.wordpress.com

2 comments:

  1. mungkin lebih baik gambar salibnya dihilangkan dan diganti gambar yang lain. Allohu a'lam

    ReplyDelete