Saturday, July 21, 2012

7 Golongan Manusia Yang Mendapatkan Rahmat Allah

Rahmat Allah merupakan sebab terbesar dimasukkannya seorang hamba ke dalam surga, Allah ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Kalaulah bukan karena keutamaan dari Allah dan rahmat-Nya, niscaya kalian termasuk orang-orang yang merugi”.[Al-Baqarah: 64]

Allah ta’ala menyebutkan dalam Al-Quran  ada 14 golongan manusia yang akan diliputi oleh rahmat-Nya, diantara mereka :

1) Orang-orang yang beriman, beramal shalih dan berpegang teguh terhadap agamanya

Allah ta’ala berfirman :

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh dengan (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan keutamaan-Nya dan memberikan hidayah kepada mereka menuju jalan yang lurus”. [An-Nisaa’: 175]


Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (guru dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin) rahimahumallah berkata : “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang mengakui adanya Allah dan menetapkan sifat sifat-Nya dengan sifat kesempurnaan. Mereka mensucikan sifat-sifat Allah dari kekurangan dan kelemahan. Berpegang teguh dengan (agama)-Nya, yaitu orang-orang yang memohon perlindungan, bersandar dan meminta pertolongan kepada Allah, tidak hanya mengandalkan kekuatan dan apa yang mereka miliki.

maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan keutamaan-Nya, yaitu Allah ta’ala akan meliputi mereka dengan rahmat yang khusus, memberikan taufiq untuk beramal kebaikan, memberikan pahala yang berlipat dan menjauhkan mereka dari musibah, cobaan dan segala sesuatu yang tidak mereka sukai. Memberikan hidayah kepada mereka menuju jalan yang lurus yaitu Allah ta’ala akan memberikan taufiq kepada mereka untuk menuntut ilmu syar’i, beramal shalih, mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.” [Taisiir Karimiir Rahmaan hal. 217]


Allah ta’ala berfirman:

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka Allah (Tuhan mereka) akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, itulah kemenangan yang nyata”. [Al-Jaatsiyah: 30]

2) Orang-orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya

Allah ta’ala berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Taatlah kalian kepada Allah dan rasul agar kalian dirahmati”. [Ali ‘Imraan : 132]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Taatlah kalian kepada Allah dan rasul yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya karena Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya agar kalian dirahmati. Ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya adalah diantara sebab seorang mendapatkan rahmat.” [Taisiir Kariimir Rahmaan hal. 281]

Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kalian kepada rasul agar kalian dirahmati”. [An-Nuur: 56]

3) Orang-orang yang diam dan mendengarkan ketika dibacakan Al-Qur’an

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan ketika dibacakan Al-Qur’an kepada kalian maka dengarkanlah dan diamlah  agar kalian dirahmati”. [Al-A’raaf: 204]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Perintah ini umum berlaku bagi siapa saja yang mendengarkan Al-Qur’an ketika dibacakan, mereka diperintahkan untuk diam dan mendengarkan. Apakah perbedaan antara istimaa’ dan inshaat?

Inshaat adalah meninggalkan percakapan dan segala sesuatu yang menyibukannya dari mendengarkan Al-Qur’an. Sedangkan istimaa’ adalah seorang memfokuskan pendengarannya, menghadirkan hati, dan merenungkan bacaan Al-Qur’an yang ia dengar.

Barangsiapa yang senantiasa melakukan dua hal tersebut ketika Al-Qur’an dibacakan, maka ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak, ilmu yang melimpah, keimanan yang istiqamah, hidayah yang terus bertambah dan bashirah dalam agamanya. Oleh karena itu, Allah menjadikan keduanya sebagai sebab seorang mendapatkan rahmat. Begitu pula sebaliknya, orang-orang yang tidak istimaa’ dan inshaat ketika Al-Qur’an dibacakan, maka mereka akan terhalangi dari rahmat Allah dan luput dari kebaikan yang sangat banyak.”. [Taisiir Kariimir Rahmaan hal. 314]

4) Orang-orang yang memohon ampun (istighfaar) kepada Allah

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Wahai kaumku, kenapa kalian meminta disegerakannya keburukan sebelum kebaikan, hendaklah kalian memohon ampun kepada Allah agar kalian dirahmati”. [An-Naml: 46]

Mujahid rahimahullah berkata : “(meminta disegerakannya keburukan sebelum kebaikan) yaitu azab sebelum rahmat”. [Fathul Qadir]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Kenapa kalian meminta disegerakannya keburukan sebelum kebaikan, yaitu kenapa kalian bersegera dan berambisi untuk berbuat kejelekan sebelum kalian melakukan kebaikan yang dapat memperbaiki keadaan kalian dan memudahkan urusan dunia akhirat kalian?”.  [Taisiir Kariimir Rahmaan]

5) Orang-orang yang bertaubat dari dosa

Allah ta’ala berfirman :

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah ‘keselamatan atas kalian’, Allah telah menetapkan atas diri-Nya rahmat. Barangsiapa diantara kalian yang berbuat kejelekan karena kebodohan lalu ia bertaubat setelahnya dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-An’aam: 54]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Barangsiapa diantara kalian yang berbuat kejelekan karena kebodohan lalu ia bertaubat setelahnya dan memperbaiki (dirinya), yaitu bersamaan dengan keharusan menyesali, meninggalkan, menjauhi dan berlepas diri dari dosa, lalu memperbaiki amalannya. Menunaikan apa yang Allah wajibkan dan memperbaiki amal-amal dzahir dan batinnya yang rusak”. [Taisiir Kariimir Rahmaan]

6) Orang-orang yang bertakwa kepada Allah

Allah ta’ala berfirman:

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

Apakah kalian heran ketika datang peringatan dari Tuhan kalian melalui seorang laki-laki dari kalian untuk memberikan peringatan agar kalian bertakwa. Mudah-mudahan kalian dirahmati”. [Al-A’raaf: 63]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Untuk memberikan peringatan agar kalian bertakwa, yaitu memberikan peringatan tentang azab yang pedih agar kalian melakukan sebab-sebab yang dapat menyelamatkan (dari azab) berupa ketakwaan kepada Allah dzahir dan batin. Dan Jika kalian mau taat pada rasul, niscaya akan turun kepada kalian rahmat Allah yang luas.” [Taisiir Kariimir Rahmaan]

Allah ta’ala berfirman:

قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Allah berfirman : ‘Azab-Ku akan kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami’.” [Al-A’raaf: 156]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, di alam ini baik ia adalah orang-orang yang memiliki derajat maupun yang rendahan, orang baiknya maupun orang jahatnya, baik meliputi orang beriman maupun orang kafir kecuali mereka telah dipenuhi oleh rahmat Allah, keutamaan dan kebaikan-Nya.

Namun rahmat khusus yang merupakan kebahagiaan dunia dan akhirat tidaklah diberikan kepada tiap orang. Oleh karena itu, Allah berfirman tentang mereka Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa,  dari dosa-dosa baik yang kecil maupun yang besar. Menunaikan zakat yaitu menunaikan zakat yang wajib kepada orang-orang yang berhak.

Orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami yaitu dengan kesempurnaan iman kepada ayat-ayat Allah, mengetahui maknanya dan beramal dengan konsekuensinya. Dan diantara konsekuensinya adalah mengikuti nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara dhahir dan batin dalam masalah pokok agama maupun cabangnya.” [Taisiir Kariimir Rahmaan]

7) Orang-orang yang bersabar ketika tertimpa musibah

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ* أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Yaitu orang-orang yang ketika ditimpa musibah mereka mengatakan ‘sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali’. Mereka itulah orang yang mendapatkan shalawat dan rahmat dari Allah (Tuhan mereka). Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan hidayah”. [Al-Baqarah 156-157]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata : “Orang-orang yang ketika ditimpa musibah yaitu sesuatu yang menyakitkan hati, badan maupun keduanya. Mereka mengatakan ‘sesungguhnya kita adalah milik Allah yaitu di bawah kekuasaan-Nya, diatur sesuai kehendak dan perintah-Nya. Kita tidak memiliki sedikitpun dari jiwa-jiwa dan harta kita, sehingga ketika Allah menguji kita dengan suatu musibah yang menimpa jiwa dan harta, maka itu adalah hak Allah yang Maha Penyayang mengatur apa yang dimiliki-Nya. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak keputusan-Nya.

Bahkan diantara kesempurnaan penghambaan seorang adalah mengetahui bahwa musibah itu lebih baik baginya. Karena musibah tersebut berasal dari Allah Al-Malik Al-Hakim, Dzat yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang hamba kepada dirinya sendiri”. [Taisiir Kariimir Rahmaan]

Wallahu ta’ala a’lam wa ahkam


Sumber : Risalah “Al-Marhuumuun fi Dhouil Qur’aanil Karim was Sunnah Al-Muthahharah


Ditulis oleh Abul-Harits di Banyumas, 1 Ramadhan 1433 H

No comments:

Post a Comment