Monday, July 23, 2012

5 Tata Cara Shalat Tarawih dan Witir

Berikut beberapa kaifiyah pelaksanaan shalat Witir dan Tarawih beserta dalil-dalilnya.

1. Shalat tiga belas rakaat diawali dengan mengerjakan dua rakaat ringan. Hal ini berdasarkan hadits Zaid bin Khâlid Al-Juhany radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim bahwa beliau berkata,

لَأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّيْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفِتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُوْنَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Sungguh saya akan memperhatikan pelaksanaan shalat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada malam hari, maka beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat yang panjang, panjang, panjang sekali, lalu mengerjakan shalat dua rakaat yang lebih pendek daripada dua rakaat sebelumnya, selanjutnya mengerjakan shalat dua rakaat dan keduanya lebih pendek daripada dua rakaat sebelumnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat dan keduanya lebih pendek daripada dua rakaat sebelumnya, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dan keduanya lebih pendek daripada dua rakaat sebelumnya, selanjutnya mengerjakan shalat Witir. Maka, itu (berjumlah) tiga belas rakaat.” [1]

Juga dalam hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bahwa beliau berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفِتَيْنِ
“Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, apabila berdiri pada malam hari untuk mengerjakan shalat, mengawali (pelaksanaan) shalatnya dengan (mengerjakan) dua rakaat yang ringan.” [2]
  1. Shalat tiga belas rakaat, yang delapan rakaat di antaranya dikerjakan dengan bersalam pada setiap dua rakaat, kemudian mengerjakan shalat Witir lima rakaat sekaligus dengan sekali tasyahhud dan sekali salam.
Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْ مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لَا يَجْلِسْ فِيْ شَيْءٍ إِلَّا فِيْ آخِرِهَا

“Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sebanyak tiga belas rakaat pada malam hari. Beliau mengerjakan shalat Witir pada (malam) itu sebanyak lima (rakaat). Tidaklah beliau duduk (yakni bertasyahud dan bersalam) pada (rakaat) manapun, kecuali hanya pada akhir (shalat)nya.[3]

  1. Shalat sebelas rakaat, dengan cara bersalam pada setiap dua rakaat, lalu mengerjakan shalat Witir sebanyak satu rakaat.
Hal ini berdasarkan hadits radhiyallâhu ‘anhâ Aisyah riwayat Muslim bahwa beliau berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحَدَةٍ
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat, antara selesainya dari shalat Isya sampai shalat Fajr (shalat Shubuh), sebelas rakaat. Beliau salam setiap dua rakaat dan mengerjakan shalat Witir dengan satu rakaat.” [4]
  1. Shalat sebelas rakaat dengan cara tidak bertasyahud dan bersalam, kecuali pada rakaat kedelapan, kemudian bertasyahhud tanpa bersalam, lalu berdiri kembali untuk mengerjakan rakaat kesembilan kemudian salam, lalu mengerjakan shalat dua rakaat lagi dalam keadaan duduk.
Hal tersebut diterangkan dalam hadits Sa’ad bin Hisyâm bin ‘Âmir bahwa beliau bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ tentang kaifiyah shalat Witir Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka ‘Aisyah menjelaskan,

…فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّيْ تِسْعَ رَكْعَاتٍ لَا يَجْلِسْ فِيْهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيْحَمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُّ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّي التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعَدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيْعِهِ الْأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ

“… Maka, beliau bersiwak, berwudhu’, dan mengerjakan shalat sebanyak sembilan rakaat. Beliau tidak duduk (yakni bertasyahud dan bersalam), kecuali pada (rakaat) kedelapan. Kemudian, beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya, lalu berdiri dan tidak bersalam. Selanjutnya, beliau berdiri untuk mengerjakan shalat bagi (rakaat) kesembilan lalu duduk, kemudian berdzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya, lalu bersalam dengan (suara) salam yang kami dengar. Kemudian, setelah salam, beliau mengerjakan shalat dua rakaat dalam keadaan duduk. Maka, itu (berjumlah) sebelas rakaat, wahai anakku. Tatkala Nabi Allah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah berumur dan bertambah dagingnya (baca: bertambah berat), beliau mengerjakan shalat Witir sebanyak tujuh (rakaat) dan mengerjakan hal yang semisal dengan perbuatan beliau yang pertama terhadap dua rakaat (setelahnya), maka itu (berjumlah) sembilan (rakaat) wahai anakku.” [5]
  1. Shalat sembilan rakaat dengan cara tidak bertasyahud dan bersalam, kecuali pada rakaat keenam, kemudian bertasyahhud tanpa bersalam, lalu berdiri kembali untuk mengerjakan rakaat ketujuh kemudian bersalam, lalu mengerjakan shalat dua rakaat lagi dalam keadaan duduk. Hal ini diterangkan dalam hadits ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anhâ di atas.
Syaikh Al-Albâny berkata, “Ini adalah beberapa kaifiyah yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam lakukan pada shalat Lail dan Witir, serta mungkin ditambah dengan bentuk-bentuk lain, yaitu dengan mengurangi jumlah rakaat yang ia kehendaki pada setiap bentuk tersebut, bahkan boleh terbatas dengan satu rakaat saja.”

Dalam Al-Muhallâ, Ibnu Hazm menyebutkan beberapa bentuk lain:
  1. Shalat tiga belas rakaat, yaitu bersalam pada setiap dua rakaat, lalu mengerjakan shalat Witir satu rakaat.
  2. Shalat delapan rakaat dengan bersalam pada setiap dua rakaat, kemudian ditambah dengan shalat Witir satu rakaat.
  3. Shalat enam rakaat dengan bersalam pada setiap dua rakaat, selanjutnya mengerjakan shalat Witir satu rakaat.
  4. Shalat tujuh rakaat dengan cara tidak bertasyahhud, kecuali pada rakaat keenam, kemudian langsung berdiri untuk rakaat ketujuh tanpa salam, lalu bertasyahhud dan bersalam.
  5. Shalat tujuh rakaat dan tidak duduk untuk bertasyahhud kecuali pada akhirnya.
  6. Shalat lima rakaat dan tidak duduk untuk bertasyahhud kecuali pada akhirnya.
  7. Shalat tiga rakaat dengan cara duduk tasyahhud dan bersalam pada rakaat kedua, lalu mengerjakan shalat Witir satu rakaat.
  8. Shalat tiga rakaat dengan cara tidak duduk tasyahhud dan bersalam, kecuali pada rakaat terakhir.[6]
  9. Shalat Witir satu rakaat.
Demikian beberapa kaifiyah yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albâny, dalam Shalâtut Tarâwîh hal. 86-94 (cet. kedua) dan Qiyâm Ramadhân hal. 27-30, serta Ibnu Hazm, dalam Al-Muhallâ 3/42-48.

Selisih Paham Tentang Kaifiyah 4-4-3[7]

Syaikh Al-Albâny juga menyebutkan kaifiyah lain, yaitu shalat sebelas rakaat: empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, kemudian empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, lalu tiga rakaat, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّيْ أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصّلِّيْ أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّيْ ثَلاَثًا.

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah menambah lebih dari sebelas rakaat pada (bulan) Ramadhan tidak pula pada selain Ramadhan. Beliau mengerjakan shalat empat (rakaat), jangan kamu bertanya tentang baik dan panjang (shalat)nya, kemudian mengerjakan shalat empat (rakaat), jangan kamu bertanya tentang baik dan panjang (shalat)nya, lalu mengerjakan shalat tiga (rakaat).” [8]

Namun, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kaifiyah ini.

Pendapat Abu Hanîfah, Ats-Tsaury, dan Al-Hasan bin Hayy adalah bahwa boleh mengerjakan qiyamul lail sebanyak dua rakaat sekaligus, empat rakaat sekaligus, enam rakaat sekaligus, atau delapan rakaat sekaligus, dengan cara tidak bersalam, kecuali pada rakaat terakhir. Kelihatannya, pendapat ini pula yang dipegang oleh Syaikh Al-Albany sehingga beliau menetapkan kaifiyah shalat sebelas rakaat: empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, kemudian empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, lalu tiga rakaat.

Di sisi lain, jumhur ulama, yakni Mâlik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishâq, Sufyân, Ibnul Mubârak, Ibnu Abi Lailâ, Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, Ibnul Mundzir, serta ulama lain, menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar radhiyallâhu ‘anhumâ, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Asy-Sya’by, An-Nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Hammad, dan Al-Auza’iy. Ibnu ‘Abdil Barr berkata, “Ini adalah pendapat (ulama) Hijâz dan sebagian (ulama) ‘Irâq.” Semuanya berpendapat bahwa shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, yaitu harus bersalam pada setiap dua rakaat. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Bâz beserta para syaikh anggota Al-Lajnah Ad-Dâ`imah, juga pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan selainnya, sehingga mereka semua menyalahkan orang yang memahami hadits ‘Aisyah di atas dengan kaifiyah shalat sebelas rakaat: empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, kemudian empat rakaat sekaligus dengan sekali salam, lalu tiga rakaat. Menurut mereka, pemahaman yang benar adalah bahwa, dalam hadits itu, empat rakaat, dikerjakan sebanyak dua rakaat-dua rakaat.

Tarjih                                                                                                             

Yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama bahwa seseorang harus bersalam pada setiap dua rakaat. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ riwayat Al-Bukhâry dan Muslim bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat malam (dikerjakan sebanyak) dua (rakaat)-dua (rakaat).” [9]
Hadits ini adalah berita, namun bermakna perintah, yaitu perintah untuk mengerjakan shalat malam sebanyak dua rakaat-dua rakaat. Demikian keterangan Syaikh Ibnu Bâz dalam Majmu’ Fatâwâ beliau 11/323-324.

Shalat Dua Rakaat Setelah Shalat Witir[10]

Para ulama juga berselisih pendapat tentang shalat dua rakaat setelah shalat Witir pada kaifiyah no. 4 dan no. 5. Tentang hal ini, ada tiga pendapat di kalangan ulama:
  1. Shalat dua rakaat setelah shalat Witir adalah sunnah. Ini adalah pendapat Katsîr bin Dhamrah dan Khâlid bin Ma’dân. Al-Hasan dan Abu Mijlaz mengerjakannya, serta Ibnu Rajab menukil hal tersebut dari sebagian orang-orang Hanbaliyah.
  2. Ada rukhshah (keringanan) dalam hal tersebut dan bukan makruh. Ini adalah pendapat Al-Auza’iy, Ahmad, dan Ibnul Mundzir.
  3. Hal tersebut makruh. Ini adalah pendapat Qais bin ‘Ubadah, Mâlik, dan Asy-Syâfi’iy.
Tarjih

Tentunya bahwa dalil-dalil tegas yang telah kami sebutkan, yang menjelaskan tentang kaifiyah itu, adalah hujjah yang harus diterima tentang pensyariatan shalat dua rakaat setelah shalat Witir.
Ibnu Taimiyah berkata, “Dan kebanyakan ahli fiqih tidak mendengar tentang hadits ini (yaitu hadits tentang keberadaan shalat dua rakaat setelah shalat Witir di atas,-pent.). Oleh karena itu, mereka mengingkari (keberadaan shalat) tersebut. Ahmad dan selainnya mendengar dan mengetahui keshahihan (hadits) ini, serta memberi keringanan untuk mengerjakan dua rakaat ini dan mengerjakan (dua rakaat) tersebut dalam keadaan duduk sebagaimana yang dikerjakan oleh (Nabi) shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Maka, seseorang yang melakukan hal tersebut tidaklah diingkari, tetapi (hal itu) bukanlah wajib menurut kesepakatan (para ulama) dan orang yang meninggalkan (hal) itu tidak dicela ….”



[1] Diriwayatkan oleh Muslim no. 765, Abu Dâud no. 1366, dan Ibnu Mâjah no. 1362.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim no. 767 dari hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 768 dan Abu Dâud no. 1323 dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu.

[3] Diriwayatkan oleh Muslim no. 737, Abu Dâud no. 1338, At-Tirmidzy no. 458, dan An-Nasâ`iy 3/240.

[4] Diriwayatkan oleh Muslim no. 736, Abu Dâud no. 1336, An-Nasâ`iy 2/30, 65, 3/249, dan Ibnu Mâjah no. 1358.

[5] Diriwayatkan oleh Muslim no. 746, Abu Dâud no. 1342-1343, An-Nasâ`iy no. 3/199, 241, dan Ibnu Mâjah no. 1191.

[6] Tambahan dari penulis dan tidak tertera dalam Al-Muhallâ.

[7] Bacalah pembahasan hal di atas dalam Al-Istidzkâr 2/95-98, 104-106, Fathul Bâry 4/191-198, Fatâwâ Al-Lajnah Ad-Dâ`imah 7/199-200, dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20.

[8] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 1147, 2013, 3569, Muslim no. 738, Abu Dâud no. 1341, At-Tirmidzy no. 439, dan An-Nasâ`iy 3/239.

[9] Takhrij-nya telah berlalu pada hal.

[10] Bacalah pembahasannya dalam Majmu’ Fatâwâ 23/92-94 karya Ibnu Taimiyah, Fathul Bâry 6/260-264 karya Ibnu Rajab, dan Al-Mughny 2/281.

Ustadz Dzulqarnain hafidzahullah



sumber : dzulqarnain.net

No comments:

Post a Comment