Saturday, December 21, 2013

Diantara Adab Seorang Muslim Dalam Menghadapi Fitnah

Tanya:

Ustadz, bagaimana sikap salafy yang baik dalam menghadapi fitnah?

Jawab:

Diantara adab seorang muslim dalam menghadapi fitnah:

[Pertama] Berdo’a kepada Allah agar dijauhkan dari fitnah, serta memohon perlindungan pada Allah dari kejelekannya

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Demi Allah Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا 

"Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, sungguh orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, sungguh orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Barangsiapa yang mendapatkan ujian lalu bersabar, maka alangkah indahnya". [HR. Abu Daud no. 4263 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 975]

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Al-Hajjaj adalah azab Allah, maka janganlah menolak azab Allah dengan tangan-tangan kalian. Namun hendaklah kalian beribadah dan memanjatkan doa dengan kerendahan diri, karena Allah berfirman: 

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ


"Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri". [QS. Al Mu'minun: 76]



[Kedua] Menjaga ketakwaan pada Allah dalam segala kondisi, berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta istiqamah di atas manhaj As-Salaf Ash-Shalih


Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar, serta memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". [QS. Ath-Thalaq:2-3]

Jika kita bertakwa pada-Nya, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dari fitnah, musibah dan seluruh cobaan yang menimpa kita.

Ketika terjadi fitnah pada zaman tabi'in, sebagian orang datang kepada Thalq bin Habib, lalu menyatakan bahwa fitnah telah terjadi, bagaimana solusinya? 

Beliau menjawab: "Berlindunglah darinya dengan takwa!" 

Mereka bertanya: "Jelaskan kepada kami, apa yang engkau maksud dengan takwa?" 

Beliau menjawab,"Takwa kepada Allah, yaitu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya, serta meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya dari Allah karena takut dari adzab-Nya. [Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ibnu Abi Dunya]

Dari 'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ 

"Karena sesungguhnya, barangsiapa diantara kalian yang hidup setelahku, maka (ia) akan melihat perselisihan yang banyak. Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Berhati-hatilah terhadap perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara baru yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat". [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi]


[Ketiga] Menyibukkan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat

Ketika seorang sibuk menuntut ilmu, ia tidak akan berselera untuk membahas fitnah-fitnah, karena ia telah merasakan manisnya ilmu dalam dirinya. Begitu pula ketika ia telah memilki kekokohan ilmu, ia tidak mudah terombang-ambing dalam badai fitnah. Selain itu, ia dapat menjawab berbagai syubhat yang datang menyambarnya dengan ilmu dan bashirah

Imam Ibnu Abi Hatim bercerita tentang kisah perdebatan antara Imam Asy-Syafi’i (murid Imam Malik bin Anas) dan Muhammad bin Al-Hasan (murid Imam Abu Hanifah) rahimahumullah,

Asy-Syafi’i bertanya: “Siapakah yang lebih alim tentang Al-Qur’an, guruku atau gurumu?”

Muhammad bin Al-Hasan berkata: “penilaian secara inshaf?”

Asy-Syafi’i berkata: “iya, aku bersumpah dengan nama Allah, siapakah yang lebih alim tentang Al-Qur’an, guruku atau gurumu?”

Muhammad bin Al-Hasan: “gurumu (yaitu Imam Malik)”

Asy-Syafi’i berkata: “Siapakah yang lebih alim tentang As-Sunnah, guruku atau gurumu?”

Muhammad bin Al-Hasan: “gurumu”

Asy-Syafi’i berkata: “Aku bersumpah dengan nama Allah, siapakah yang lebih tahu tentang perkataan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan perkataan ulama mutaqaddimin, guruku ataukah gurumu?”

Muhammad bin Al-Hasan: “gurumu”

Asy-Syafi’i berkata: “Tidak tersisa lagi kecuali qiyas, kemudian qiyas tidaklah digunakan kecuali dalam perkara ini (Al-Qur’an, hadits dan perkataan sahabat –pen). Barangsiapa yang tidak mengerti ushul, bagaimana ia akan menerapkan qiyas??” [Al-Jarh wat Ta’dil, 1/12-13 dengan sanad yang shahih]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Seseorang haruslah memiliki ushul (pokok) yang menyeluruh, sehingga dapat menjawab perkara-perkara cabang agar ia senantiasa berbicara dengan ilmu dan keadilan” [Minhajus Sunnah, 5/83]

Orang-orang yang tidak memiliki kekokohan ilmu, bagaimana ia akan mengambil sikap ketika terjadi fitnah? Ia juga tidak mengetahui kadar dirinya, kapan ia harus diam dan kapan ia boleh berbicara...


[Keempat] Tidak mencari-cari kesalahan ulama atau thalibul ilmi

Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنك إن اتبعت عورات الناس أفسدتهم أو كدت أن تفسدهم

“Sungguh jika engkau mencari-cari aib manusia, engkau akan merusak mereka atau hampir-hampir engkau akan merusak mereka” [HR. Abu Daud no. 4888 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud, 10/388]

Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يا معشر من آمن بلسانه ولم يدخل الإيمان قلبه لا تغتابوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من اتبع عوراتهم يتبع الله عورته ومن يتبع الله عورته يفضحه في بيته

“Wahai orang-orang yang telah beriman di lisannya, namun iman itu belum masuk dalam hatinya, janganlah kalian berbuat ghibah terhadap kaum muslimin, jangan pula kalian mencari-cari aib mereka. Sebab barangsiapa yang mencari-cari aib manusia,  niscaya Allah ‘azza wajalla akan membuka aibnya. Barangsiapa yang dibuka aibnya oleh Allah, maka aibnya akan terbongkar meskipun ia berada dalam rumahnya” [HR. Abu Daud no. 4880 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud, 10/380]

Ketika menjelaskan hadits tersebut, Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“(Larangan berbuat ghibah –pen) ini juga berkenaan dengan hak ulama yang dijadikan qudwah dalam agama. Adapun bagi ahlul bid’ah dan para penyeru kesesatan, maka diperbolehkan untuk menjelaskan kebodohan mereka, serta menampakkan aib-aib mereka sebagai peringatan agar mereka tidak dijadikan qudwah” [Al-Farq baina An-Nashihah wat Ta’yiir hal. 25-26]

Al-Imam Al-Baihaqi menyebutkan perkataan ulama salaf yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Manazil rahimahumallah berikut,

“Seorang mukmin selalu mencarikan udzur terhadap saudaranya, sedangkan orang munafik, ia suka mencari-cari aib saudaranya” [Syu’abul Iman, 15/515]


[Kelima] Ketika terjadi fitnah, tidak diperbolehkan meremehkan dan merendahkan kedudukan ulama

Diantara ciri-ciri ahlul-bid’ah adalah gemar mencela dan merendahkan kehormatan para ulama.

Ketika Hammad bin Abi Sulaiman menyebutkan tentang Ahlul-Hijaz (ulama Madinah –pen), ia berkata:

“Sungguh aku telah bertanya pada mereka, ternyata mereka tidak memiliki ilmu sedikitpun. Demi Allah, anak-anak kecil kalian lebih berilmu dari mereka, bahkan cucu-cucu kalian sekalipun”.

Mughirah berkata: “Ini adalah sikapnya yang melampaui batas (terhadap ulama –pen)” [Jami’ Bayan ‘Ilmi wa Fadhlihi no. 2130]

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata:

“Hammad bin Abi Sulaiman adalah seorang Murji’ah. Celaan ahlul-bid’ah terhadap ulama sunnah tanpa haq adalah perkara yang diketahui, tidak membutuhkan banyak nukilan dalam hal ini. Namun aku ingin mengingatkan para penuntut ilmu bahwa meremehkan kedudukan ulama ahlul-hadits merupakan ciri ahlul-bid’ah, jauhilah perbuatan tersebut” [Al-Ibanah hal. 113]

‘Ali bin Utsman An-Nufaili rahimahullah berkata:

“Aku berkata pada Ahmad bin Hambal, “sungguh Abu Qatadah membicarakan Waki’ bin Al-Jarrah, Isa bin Yunus dan Ibnul Mubarak.” Lalu Imam Ahmad berkata: “Barangsiapa yang melemparkan tuduhan dusta kepada ahlus-shidq (para ulama yang jujur -pen), maka ia adalah kadzab (pendusta –pen)” [Tahdziib Al-Kamaal, 30/472]

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata:

“Betapa banyak di tengah-tengah kita sebagian penuntut ilmu yang lancang mencela para ulama yang kokoh keilmuannya hanya berdasarkan pemahaman mereka. Padahal jika mampu, seharusnya mereka melakukan pembahasan permasalahan tersebut beserta perselisihan yang terjadi, lalu menanyakannya pada para ulama.” [Al-Ibanah hal 119]

Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj rahimahullah menulis kitab Shahih Muslim selama 15 tahun, setelah menyelesaikannya, beliau meminta pendapat dan masukan dari para ulama di zamannya. Diantara ulama yang dimintai bimbingannya oleh beliau adalah Al-Imam Abu Zur'ah Ar-Razi rahimahullah, lalu beliau meninggalkan beberapa hadits yang diberikan catatan 'illah oleh Abu Zur'ah. [Muqaddimah Shahih Muslim]


Diantara ulama yang menempuh metode Imam Muslim di zaman ini adalah Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah. Tidaklah beliau menulis kitab bantahan terhadap ahlul-bid'ah, kecuali beliau akan meminta pendapat dan catatan dari para ulama yang lain. Hal ini menunjukkan sifat tawadhu' para ulama kita dan jauhnya diri mereka dari sifat 'ujub (berbangga dengan ilmu yang ada dalam dirinya). 

lalu bagaimana pendapat Anda jika ada orang yang memiliki modal ilmu yang sedikit, merasa 'ujub, tidak memiliki adab terhadap ulama serta tergesa-gesa dalam menulis tanpa meminta bimbingan dan nasehat para ulama?

Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata:

Seorang ulama jika terjatuh dalam kesalahan, maka kesalahannya akan hanyut dalam keutamaannya, karena setiap ulama pastilah memiliki kesalahan” [Taqdiim Buluugul Munaa hal. 10-11]

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

“Diantara nasihat yang berkenaan dengan ulama muslimin adalah tidak mencari-cari aib, kekeliruan dan kesalahan mereka, karena ulama tidaklah ma’shuum (selalu benar –pen), terkadang mereka salah dan keliru. Setiap anak Adam memiliki kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat...

(Larangan ghibah –pen) dalam hadits ini tertuju pada kaum muslimin secara umum, bagaimana jika yang di-ghibah adalah ulama? orang-orang yang mencari-cari kesalahan ulama dengan tujuan untuk menyebarkan aib-aib mereka, ia tidak hanya berbuat kejelekan terhadap pribadi ulama tersebut, namun juga berbuat kejelekan terhadap ilmu yang mereka bawa..

Jika manusia hilang kepercayaannya terhadap ulama dan ilmu yang ada pada mereka, maka ini merupakan bentuk penodaan terhadap syariat yang mereka bawa berupa sunah-sunah Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu aku katakan: “wajib untuk menutup aib para ulama kita, melakukan pembelaan terhadap mereka dan memberikan udzur terhadap kesalahan-kesalahan mereka” [Syarh Riyadhus Shalihin, 2/393-395]

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata:

”Sesungguhnya mujtahid adalah orang yang melihat pada suatu pendapat, bukan melihat pada ulama yang berpegang pada pendapat tersebut. Jika ia mengetahui bahwa dirinya masih mengikuti pendapat mayoritas dan keluar dari pendapat minoritas, atau hanya mengikuti orang-orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan, atau hanya megikuti orang-orang yang memiliki keluasan ilmu (tanpa mengetahui dalilnya –pen), maka ketahuilah bahwa dalam dirinya masih terdapat sifat ashabiyyah. Ia masih berada dalam lembah diantara lembah-lembah taklid dan belum memberikan hak ijtihad sebagaimana mestinya” [Adab Ath-Thalab hal. 43]


[Keenam] Meredam fitnah dan menghindari sikap tergesa-gesa dengan meminta bimbingan serta nasehat para ulama, kemudian mengamalkan nasehat tersebut

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

"Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Jika bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya kalian akan mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian)" [QS. An-Nisaa’: 83]

Ketika menafsirkan ayat di atas, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimaullah berkata:

“Ini adalah pengajaran adab dari Allah ta’ala bagi hamba-hamba-Nya atas perbuatan mereka (tergesa-gesa menyebarkan berita-berita dan mengambil sikap, pen) yang tidak layak. Padahal yang seharusnya mereka lakukan, apabila datang kepada mereka berita tentang urusan besar dan berhubungan dengan kemaslahatan umum, yaitu yang berkaitan dengan keamanan dan perkara yang menyenangkan kaum mukminin atau ketakutan yang di dalamnya terkandung musibah atas mereka, maka hendaklah mereka melakukan tatsabbut (memastikan beritanya) dan tidak tergesa-gesa menyiarkan berita tersebut.

Akan tetapi hendaklah mereka kembalikan urusan itu kepada Rasul dan Ulil amri (pemegang urusan dari kalangan umaro dan orang-orang berilmu) di antara mereka, yaitu orang-orang yang memiliki pandangan, memiliki ilmu, memiliki nasihat (yakni yang pantas menasihati dalam masalah umum, pen), memiliki akal dan memiliki ketenangan (tidak tergesa-gesa dalam memutuskan). Merekalah yang mengetahui kemaslahatan dan kemudaratan.

Maka jika mereka memandang dalam penyiaran berita tersebut terdapat kemaslahatan, kemajuan dan kegembiraan terhadap kaum muslimin dan penjagaan dari musuh-musuh mereka, baru kemudian boleh disebarkan. Namun jika mereka memandang dalam penyiarannya tidak mengandung maslahat sama sekali, atau terdapat maslahat akan tetapi kemudaratannya lebih besar, maka mereka tidak menyiarkan berita tersebut. Oleh karena itu Allah ta’ala mengatakan, Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri),” yakni, orang-orang yang mau mencari kebenaran dapat mengambilnya dari pemikiran dan pandangan mereka yang benar serta ilmu-ilmu mereka yang terbimbing.” [Tafsir As-Sa’di hal. 184]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

البِرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِهِمْ 

"Barakah (kebaikan yang banyak –pen) ada bersama orang-orang besar (ulama –pen) mereka". [HR. Ibnu Hiban, Al-Hakim, serta dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami' no. 2884 dan Ash-Shahihah no.1778]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ 

"Sesungguhnya ada di antara manusia yang menjadi kunci kebaikan dan penutup pintu kejelekan, adapula di antara manusia yang menjadi kunci kejelekan dan penutup pintu kebaikan. Maka beruntunglah orang yang dijadikan Allah sebagai kunci kebaikan melalui tangannya, serta celakalah orang yang Allah jadikan pintu kejelekan melalui tangannya". [HR Ibnu Majah]

Mudah-mudahan bermanfaat,

Disarikan oleh Abul-Harits dari kitab Al-Ibanah karya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah di Madinah, 18 Shafar 1435 H

No comments:

Post a Comment