Friday, May 10, 2013

Hukum Shalat dan Thawaf Sambil Menggendong Anak Kecil yang Memakai Pempers

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah berkata:

 
فإذا كان الولد أو الجارية التي يحملها الشخص في الصلاة عليها حفاظة، وفيها شيء من النجاسة، فإن كانت النجاسة ظاهرة، ويمكن أن تؤثر، فلا يجوز له أن يحملها، وأما إذا كان هناك نجاسة ولكنها ليست ظاهرة ولا تصل إليه فليس هناك بأس. والطواف بالأطفال من جنسه، فإذا دعت الحاجة إلى حمل الأطفال فالأصل هو طهارة ثيابهم وأبدانهم، إلا إذا وجدت النجاسة وظهرت، وغالباً أن النجاسات إذا وجدت في الحفائظ من الداخل فإنها تتشربها؛ لأن فيها مانعاً يمنعها من أن تظهر، فما دام أن النجاسة لم تظهر وأمنت ناحية تنجيسها لما حولها فلا بأس


“Jika anak laki-laki maupun anak wanita yang ia gendong tatkala shalat memakai pempers yang terdapat najis, maka (perlu dirinci hukumnya –pen-). Jika najis tersebut nampak hingga dapat memberikan bekas (pada pakaian shalatnya –pen-) maka ia tidak boleh menggendongnya. Namun jika najis tersebut tidak nampak dan tidak khawatir membasahi pakaiannya, maka diperbolehkan.

Hukum Thawaf dengan menggendong bayi juga demikian. Jika ia memang harus menggendongnya, maka hukum pakaian dan badan bayi pada asalnya suci. Kecuali jika terdapat najis dan najis itu nampak. Namun yang sering terjadi, najis yang terdapat dalam pempers akan diserap dari dalam hingga dapat mencegahnya untuk keluar. Selama najis tersebut tidak nampak dan tidak menyebar ke pakaiannya, maka diperbolehkan menggendongnya.”

[Syarh Sunan Abu Dawud, penjelasan hadits Abu Qatadah Al-Anshary radhiyallahu 'anhu yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menggendong Umamah bintu Abu Al-'Ash tatkala shalat]


Diterjemahkan oleh Abul-Harits di Madinah, 30 Jumadil Akhirah 1434 H

No comments:

Post a Comment