Tanya:
Gimana jika
suami kita selalu tidak jujur....masalah sekecil apapun itu kaya menyembunyikan
sms siapa, telepon dari siapa, terus dia gak pernah terus terang sama istri berapa
penadapatanya kalo ditanya selalu membantah....trus gantian istri yang kerja di
luar suami. Selalu tanya pendapatan minta kiriman buat benahin rumah dll sedangkan
dia gak mau jujur tentang pndptan yang dia hanya menunggu kiriman dr sya dan
pdhal saya kerja bukan untuk benerin rumah sendri karna q punya anak yang harus
q fikir masa depan nya dan dia selalu membedakan q sm istri temen y masalah
uang....dia jg kaya gk bertggung jawab atas kesalahan q sellau lo ad mslh
larinya ke orang tua saya trus sking q skit hati q mnta cerai dn dia tdk
mau.... Tp menurut sy q gak pernah dibimbing sama dia dia diajak jamaah juga
gak mau mementingkan sahabatnya dari pad q....
Jawab:
Saya
memiliki beberapa catatan tentang kondisi rumah tangga ibu:
Pertama, hendaknya suami dan istri memiliki keterbukaan satu sama lain dalam berumah tangga. Hal itu akan menumbuhkan kepercayaan di hati pasangannya. Rumah tangga yang dibangun dengan sikap was-was, saling curiga, saling menutupi kesalahan, maupun kebohongan akan menuai banyak masalah. Kejujuran merupakan asas dalam kehidupan berumah tangga. Kejujuran, meskipun pahit dalam sebagian kondisi, tentu lebih baik daripada terus-menerus berbohong dan menutup-nutupi kesalahan. Ketahuilah bahwa kejujuran akan membawa kebaikan, dan kedustaan pasti akan terbongkar dengan berjalannya waktu.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ
الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ
صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ
يَهْدِى إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ
اللَّهِ كَذَّابًا
“Sesungguhnya
kejujuran akan membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga.
Sesungguhnya seseorang akan senantiasa berlaku jujur, hinga ia menjadi shiddiq.
Sesungguhnya kebohongan akan membawa pada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa
akan membawa ke neraka. Sesungguhnya seorang akan senantiasa melakukan kebohongan,
hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Kedua, mencari nafkah adalah kewajiban
suami. Seorang suami dituntut memberikan nafkah berupa sandang, pangan dan
papan untuk istri dan anak-anaknya sebatas kemampuannya. Suami tidak dibenarkan
membebani istrinya dengan segala sesuatu yang di luar kewajibannya sebagai
seorang istri. Inilah hikmah kenapa seorang suami dijadikan pemimpin dan memiliki
kedudukan yang lebih tinggi dalam rumah tangga, karena suami lah yang
memberikan nafkah untuk istri, dan tidak sebaliknya.
Allah ta’ala
berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا
فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم
“Laki-laki
(suami) adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), karena Allah telah melebihkan
sebagian mereka (suami) di atas sebagian yang lain (istri). Dan karena mereka
(suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” [QS. An-Nisaa’: 38]
Tafsir dari firman
Allah “Dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka” adalah
المهر والنفقة عليهن
“Mahar dan
nafkah suami kepada istrinya”. Demikian dinyatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma [Zaadul Masiir, 2/25]
Al-Imam Ibnu
Jariir Ath-Thabari rahimahullah berkata:
"الرجال قوّامون على النساء"،
الرجال أهل قيام على نسائهم، في تأديبهن والأخذ على أيديهن فيما يجب عليهن لله
ولأنفسهم "بما فضّل الله بعضهم على بعض"، يعني: بما فضّل الله به الرجال
على أزواجهم: من سَوْقهم إليهنّ مهورهن، وإنفاقهم عليهنّ أموالهم، وكفايتهم إياهن
مُؤَنهنّ. وذلك تفضيل الله تبارك وتعالى إياهم عليهنّ، ولذلك صارُوا قوّامًا عليهن
“Laki-laki
merupakan pemimpin bagi para wanita”, karena laki-laki (suami) berkewajiban mengurus,
mendidik dan membimbing istrinya untuk melaksanakan apa yang wajibkan untuk
diri mereka dan untuk suami mereka.
“Karena
Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) di atas sebagian yang lain (istri)”
yaitu dalam hal membimbing istrinya, memberikan mahar dan nafkah dari harta
suami guna mencukupi kebutuhan istrinya. Hal itu merupakan keutamaan yang Allah
anugrahkan kepada laki-laki, hingga pantaslah mereka menjadi pemimpin kaum
wanita…” [Tafsir Ath-Thabari, 8/290]
Asy-Syaikh
Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:
يخبر تعالى أن الرِّجَال {
قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ } أي: قوامون عليهن بإلزامهن بحقوق الله تعالى، من
المحافظة على فرائضه وكفهن عن المفاسد، والرجال عليهم أن يلزموهن بذلك، وقوامون
عليهن أيضا بالإنفاق عليهن، والكسوة والمسكن
“Allah ta’ala
mengabarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, yaitu kepemimpinan
mereka dalam membimbing wanita menegakkan hak-hak Allah ta’ala berupa perintah
agar wanita menjaga kewajibannya dan melarang wanita dari perbuatan yang menjurus
pada kerusakan. Demikian pula karena kepemimpinan laki-laki dalam pemberian nafkah,
pakaian dan tempat tinggal” [Taisiir Kariimir Rahmaan, 1/177]
Boleh saja
jika istri ingin membantu suami mencari penghasilan, namun dengan catatan tidak
menyelisihi syariat dalam pekerjaannya, serta tidak melalaikan kewajibannya
dalam mengurus suami dan anak-anak.
Ketiga, sikap sebagian suami
yang tidak terbuka dalam masalah penghasilan, saya kira tidak perlu disalahkan.
Sebagian suami lebih tahu tentang sifat dan karakter istrinya. Mungkin ia
khawatir, apabila ia terbuka pada istrinya dalam masalah penghasilan, istrinya
akan banyak menuntut dan menghabiskan seluruh hasil jerih payahnya, padahal ia
ingin menyisihkan sedikit penghasilannya untuk menabung.
Sifat dan
karakter istri bermacam-macam, ada tipe wanita yang suka berfoya-foya, ia gemar
membelanjakan penghasilan suaminya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Adapula
tipe wanita yang qana’ah dan bijaksana, ia sangat berhati-hati dalam
membelanjakan uang yang diamanahkan kepadanya. Tidak terbuka dalam masalah
nafkah, ada sisi positif dan negatifnya, tergantung kondisi masing-masing
keluarga, Anda dan suami Anda lebih tahu.
Keempat, masalah intern rumah
tangga, sebaiknya diselesaikan di dalam, tidak perlu melibatkan orang luar,
baik orang tua, mertua, saudara maupun kawan. Berdasarkan pengalaman,
keterlibatan orang luar justru akan memperkeruh suasana. Apa jadinya kalo suami
mengadukan istri kepada orang tuanya, dan istri mengadukan suaminya keapada
orang tuanya (mertua suami). Masing-masing menceritakan aib dan kekurangan yang
dimiliki pasangannya. Hal itu akan merusak hubungan baik antar dua keluarga dan
menumbuhkan kesan negatif. Wibawa suami akan jatuh di hadapan mertuanya,
demikian pula kehormatan istri akan jatuh di hadapan orang tua suami.
Kelima, tidak dibenarkan bagi
suami atau istri membanding-bandingkan pasangannya dengan pasangan orang lain.
Misalkan membandingkan istrinya dengan istri temannya atau membandingkan
suaminya dengan suami saudaranya. Karena hal itu akan menyakitkan hati
pasangannya. Tidak ada laki-laki atau wanita yang sempurna di dunia ini. Setiap
suami atau istri pasti memiliki kekurangan. Kita harus bijak dalam menyikapi
kekurangan suami atau istri kita.
Gunakan cara
yang baik dalam menasehati pasangan Anda. Anda bisa meminta suami mendengarkan
ceramah bermanfaat tentang nasehat rumah tangga oleh ustadz yang berkompeten di
bidangnya atau Anda bisa membeli buku panduan menjadi suami atau istri idaman
dalam Islam atau dengan judul yang semisal. Anda dan suami membaca buku itu
bersama-sama saat ada waktu luang, kemudian introspeksi kesalahan-kesalahan
tersebut dalam pribadi masing-masing, setelah itu keduanya berusaha mengoreksi
dan memperbaiki kekurangannya. Carilah waktu yang tepat dalam menyampaikan
nasehat.
Allahua’lam,
ini pandangan saya pribadi dalam masalah tersebut, semoga bermanfaat.
Ditulis oleh
Abul-Harits di Madinah, 9 Rabi’ul Awwal 1437
No comments:
Post a Comment